Kamis, 21 Mei 2026

Idul Adha 1447 H

Khutbah Idul Adha 2026 Tema Pengorbanan, Resmi dari Kemenag, MUI dan NU

Berikut disajikan Khutbah Idul Adha 1447 H/2026 dengan tema Pengorbanan, Resmi dari Kemenag, MUI dan NU, ada 5 contoh khutbah Idul Adha

Tayang:
Tribun Jabar/Muhamad Syarif Abdussalam
KHUTBAH IDUL ADHA - Salat Iduladha di lapangan Gasibu, Senin (17/6/2024). Berikut disajikan Khutbah Idul Adha 1447 H/2026 dengan tema Pengorbanan, Resmi dari Kemenag, MUI dan NU, ada 5 contoh khutbah Idul Adha. 

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah, 

Pada hari yang agung ini, khatib mengingatkan kepada jamaah shalat Idul Adha, untuk selalu meningkatkan takwa kepada Allah SWT, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena sesungguhnya sebaik-baiknya bekal manusia adalah dengan takwa. Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 197:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

Artinya: Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat (QS Al-Baqarah: 197).

Jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah, Hari raya kurban atau biasa kita sebut Idul Adha yang kita peringati tiap tahun tak bisa terlepas dari kisah Nabi Ibrahim sebagaimana terekam dalam Surat ash-Shaffat ayat 99-111. Meskipun, praktik kurban sebenarnya sudah dilaksanakan putra Nabi Adam yakni Qabil dan Habil.

Diceritakan bahwa kurban yang diterima adalah kurban Habil bukan Qabil. Itu pun bukan daging atau darah yang Allah terima namun ketulusan hati dan ketakwaan dari si pemberi kurban. Hal ini tercantum dalam Al-Qur'an surat Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Artinya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya (QS Al-Hajj: 37).

Kendati sejarah kurban sudah berlangsung sejak generasi pertama umat manusia, namun syariat ibadah kurban dimulai dari cerita perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya, Nabi Ismail AS. Seorang anak yang ia idam-idamkan bertahun-tahun karena istrinya sekian lama mandul.

Dalam Surat ash-Shaffat dijelaskan bahwa semula Nabi Ibrahim berdoa:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ.

Artinya: Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.

Allah SWT lalu memberi kabar gembira dengan anugerah kelahiran seorang anak yang amat cerdas dan sabar (ghulâm halîm). Hanya saja, ketika anak itu menginjak dewasa, Nabi Ibrahim diuji dengan sebuah mimpi. Ia berkata, "Wahai anakku, dalam tidur aku bermimpi berupa wahyu dari Allah yang meminta aku untuk menyembelihmu. Bagaimana pendapat kamu?" Anak yang saleh itu menjawab, "Wahai bapakku, laksanakanlah perintah Tuhanmu. Insyaallah kamu akan dapati aku termasuk orang-orang yang sabar."

Tatkala sang bapak dan anak pasrah kepada ketentuan Allah, Ibrahim pun membawa anaknya ke suatu tumpukan pasir. Lalu Ibrahim membaringkan Ismail dengan posisi pelipis di atas tanah dan siap disembelih.

Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh, 

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved