Jumat, 1 Mei 2026

Naskah Khutbah Jumat

Naskah Khutbah Jumat 10 April 2026: Jaga Speedometer Iman dan Amal Harus di Level Tertinggi

Berikut Naskah Khutbah Jumat 10 April 2026: Jaga Speedometer Iman dan Amal Harus Dilevel Tertinggi

Tayang:
Tribunpontianak.co.id
NASKAH KHUTBAH JUMAT - Naskah Khutbah Jumat 10 April 2026: Jaga Speedometer Iman dan Amal Harus Dilevel Tertinggi 

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, ayat di atas merupakan petunjuk bagi umat Islam, bahwa ketika selesai atas sebuah pekerjaan dunia, baik itu berupa perniagaan hingga urusan perjuangan atau jihad, maka segera bulatkan tekad untuk kembali beribadah dengan penuh semangat.

Kata فَانْصَبْ berasal dari kata “nashaba” berarti mewujudkan sesuatu hingga tegak dan mantap. Usaha menegakkan itu biasanya dilakukan dengan sungguh-sungguh sehingga menimbulkan keletihan.

Kata “nashaba” juga digunakan dalam arti letih dan lelah, seperti disebutkan dalam hadits:

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ (رواه الشيخان)

Artinya: “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan atau penyakit atau kesedihan atau gangguan atau kesusahan bahkan duri yang menusuknya kecuali Allah menghapus kesalahan karenanya.” (HR Syaikhoni).

Kedua ayat tersebut, rasanya sangat relevan untuk kita jadikan bahan renungan (tadabbur) setelah kita selesai melaksanakan puasa Ramadhan seperti saat ini.

Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 3 April 2026: Tanda-tanda Dicabutnya Rasa Syukur Dalam Hati Insan Muslim

Ma’asyiral Muslimin, rahimakumullah

Setelah sempurna menunaikan ibadah-ibadah di bulan Ramadan kemarin, hendaklah kita memiliki perasaan cemas (khauf) dan harapan (raja’). Cemas jikalau puasa kita tidak diterima oleh Allah Ta’ala.

Namun, kita juga tetap berharap semoga Allah Ta’ala berkenan menerima puasa kita, dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya, walaupun mungkin kita belum laksanakan secara maksimal sesuai yang telah disyariatkan.

Maka, sebagai bentuk khauf dan raja’ itu, kita hendaknya bertekad untuk untuk terus melestarikan kebiasaan-kebiasaan positif selama Ramadan.

Untuk melestarikan ibadah pasca bulan Ramadan, diperlukan tekad yang kuat, agar hambatan dan tantangan dalam kehidupan, tidak menyurutkan semangat ibadah dan amal shaleh yang telah kita dawamkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan motivasi pada orang yang bersungguh-sungguh dalam berjuang, sebagaimana firman-Nya surah Al-Ankabut ayat 69:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ (العنكبوت [٢٩]: ٦٩)

Artinya: “Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang orang yang berbuat baik.”

Ketika kita mampu menjaga semangat ibadah di bulan Syawal, maka itulah makna dan hakikat yang terkandung dalam bulan Syawal yaitu bulan peningkatan.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved