Senin, 1 Juni 2026

Pungli Wisata Merajalela di Garut Selatan, Warga Minta Preman Berkedok Karang Taruna Disikat

Warga Kabupaten Garut, Jawa Barat kembali diresahkan oleh keberadaan pelaku pungli di kawasan wisata pantai selatan.

Tayang:
Penulis: Sidqi Al Ghifari | Editor: Dedy Herdiana
TribunJabar.id/Sidqi Al Ghifari
PANTAI SELATAN GARUT - Pemandangan di Pantai Santolo, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (13/5/2025) pagi pukul 05.51 WIB.  Warga Kabupaten Garut, Jawa Barat kembali diresahkan oleh keberadaan pelaku pungli di kawasan wisata pantai selatan. 

Ringkasan Berita:
  • Pungli marak di wisata pantai selatan Garut, warga resah.
  • Preman berkedok Karang Taruna tarik biaya masuk berlipat.
  • Ada korban kekerasan, aparat diminta serius benahi masalah.

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Garut, Sidqi Al Ghifari 

TRIBUNPRIANGAN.COM GARUT - Warga Kabupaten Garut, Jawa Barat kembali diresahkan oleh keberadaan pelaku pungli di kawasan wisata pantai selatan.

Praktik pungli itu bahkan menimbulkan korban setelah seorang kreator konten menjadi sasaran kekerasan usai mengunggah video dugaan pungutan liar di kawasan Pantai Santolo.

Tribunjabar.id mencoba berkomunikasi dengan tokoh setempat terkait praktik pungli dan aksi premanisme yang kerap terjadi di kawasan wisata pantai selatan Garut.

Demi keamanan narasumber, identitas tokoh dalam berita ini disamarkan. 

Ia, yang kami sebut Ipan (55), mengatakan bahwa selama ini perilaku pungli di kawasan selatan khususnya pantai kerap dilakukan oleh segerombolan preman yang mengaku sebagai anggota karangtaruna.

Baca juga: Gara-gara Posting Praktik Pungli di Pantai Santolo Garut, Seorang Konten Kreator Dibacok

Mereka ucapnya, mengaku sebagai anggota karangtaruna agar bisa lebih leluasa beraktivitas di kawasan pos jaga.

"Dengan berkedok karangtaruna mereka bebas dan leluasa untuk ikut campur dalam penarikan retribusi di portal masuk pantai," ujarnya melalui sambungan telpon, Kamis (29/1/2026).

Ia menuturkan, praktik pungli itu bahkan cenderung dibiarkan oleh petugas yang setiap harinya berjaga di pos penarikan tiket.

Bahkan ungkapnya, praktik pungli itu dilakukan secara terang-terangan di dekat portal masuk pantai.

"Kadang jika wisatawan mengantri, di situlah celah untuk mengakali harga masuk, biasanya pelaku meminta uang dengan nominal 10 kali lipat bahkan lebih, dari karcis resmi Rp.11 ribu," ungkapnya.

Kondisi antrean tersebut, lanjut dia, kerap membuat petugas di pos resmi tidak mengetahui adanya pungutan liar yang dilakukan oknum di luar jalur masuk resmi, karena wisatawan terfokus untuk segera masuk ke kawasan wisata.

Pelaku pungutan liar tersebut kemudian hanya menyerahkan uang ke petugas pos sesuai besaran retribusi resmi, sementara sisa uang yang dipungut dari wisatawan diduga masuk ke kantong pribadi pelaku.

"Ada juga yang bermain dengan oknum petugas pos, mereka sengaja membeli kertas karcis langsung dari pos, kemudian dijual berkali-kali lipat kepada wisatawan," ungkapnya.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved