Rabu, 8 April 2026

Mortir Utuh Ditemukan di Bukit Panjiwangi Garut, Sejarawan: Sisa Pertempuran Kubang

Satu buah mortir utuh diduga peninggalan perang kemerdekaan ditemukan di Kampung Citayam, Desa Panjiwangi, Kecamatan Tarogong Kaler

Penulis: Sidqi Al Ghifari | Editor: ferri amiril
TribunPriangan.com/istimewa
MORTIR SISA PERTEMPURAN KUBANG - Sebuah mortir ditemukan di Kampung Citayam, Desa Panjiwangi, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (27/1/2026). Sejarawan menyebut mortir itu kemungkinan sisa Pertempuran Kubang 12 Oktober 1945. 

Ringkasan Berita:* Satu buah mortir utuh diduga peninggalan perang kemerdekaan ditemukan di Kampung Citayam, Desa Panjiwangi, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (27/1/2026)
 
* Kapolsek Samarang AKP Hilman mengatakan bahwa mortir tersebut ditemukan oleh warga Samarang bernama Dipa (25) saat tengah mencari madu hutan

 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com Garut, Sidqi Al Ghifari 


TRIBUNPRIANGAN.COM, GARUT - Satu buah mortir utuh diduga peninggalan perang kemerdekaan ditemukan di Kampung Citayam, Desa Panjiwangi, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (27/1/2026).

Mortir tersebut ditemukan di sela-sela bebatuan oleh seorang warga yang tengah mencari madu di kawasan perbukitan Panjiwangi, sekitar pukul 09.30 WIB.

Sejarawan dan Budayawan Garut Warjita mengatakan, kemungkinan besar mortir tersebut adalah sisa-sisa dari perang kemerdekaan pada tahun 1945.

"Jika dilihat dari lokasi tak terlalu jauh dari kawasan pertempuran rakyat Garut melawan Jepang atau Pertempuran Kubang pada 12 Oktober 1945," ujarnya saat dihubungi Tribun, Selasa malam.

Ia menuturkan, tragedi berdarah itu bermula ketika warga pribumi berhasil melumpuhkan sekitar 60 tentara Jepang yang berjaga di Pabrik Tenun Garut (PTG), yang pada masa pendudukan Jepang dikenal dengan nama Shuko Kusho.

Baca juga: Bos Dodol Pimpin PHRI Garut, Bawa Misi Hidupkan Kembali Wisata Kawasan Ngamplang

Pabrik tersebut berlokasi di kawasan Guntur, yang kini menjadi Mall Ramayana yang masuk wilayah perkotaan Garut.

"Kabar tentang kemerdekaan telah sampai di telinga masyarakat Garut, kemudian menimbulkan semangat perjuangan, mendorong pejuang mengusir penjajah di Garut," ungkapnya.

PTG menjadi salah satu titik konsentrasi tentara Jepang sehingga dipandang sebagai sasaran strategis untuk melancarkan perlawanan.

"Ketika Indonesia masih dijajah Jepang, PTG dikuasai tentara Jepang. Setelah Indonesia merdeka, pabrik itu diambil alih oleh para pejuang," Jelas Warjita.

Warjita menyebut, tentara Jepang di PTG disebut-sebut sebenarnya telah menyerah, bahkan dikabarkan telah menyerahkan senjata kepada warga pribumi. 

Namun, kemarahan para pejuang yang telah lama terpendam akhirnya memuncak. Akibatnya, sekitar 60 tentara Jepang dilaporkan tewas dalam peristiwa itu.

Pembantaian yang terjadi pada 10 Oktober itu kemudian memicu reaksi balasan dari pihak Jepang. Kabar tewasnya puluhan tentara tersebut menyebar luas dan sampai ke markas pasukan Jepang di Ujungberung, Bandung. 

Dua hari berselang, pasukan Jepang pun dikerahkan untuk melancarkan aksi balas dendam terhadap masyarakat Garut.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved