Selasa, 19 Mei 2026

Ciamis Catat Nilai Tertinggi Nasional Pengelolaan Sampah Namun Kondisi Pasar Jadi Sorotan

Kabupaten Ciamis mencatatkan capaian membanggakan dalam tata kelola persampahan nasional, namun kondisi kebersihan di Pasar Manis Ciamis

Tayang:
Penulis: Ai Sani Nuraini | Editor: ferri amiril
TribunPriangan.com/Ai Sani Nuraini
KUNJUNGAN - Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, saat melakukan kunjungan ke Kabupaten Ciamis dan berinteraksi dengan warga, ia menyebut ada beberapa PR Pemerintah Daerah Ciamis dalam tata kelola sampah meski telah meraih predikat Kota Terbersih di Indonesia, Minggu (1/2/2026) sore. 

Ringkasan Berita:* Kabupaten Ciamis mencatatkan capaian membanggakan dalam tata kelola persampahan nasional, namun kondisi kebersihan di Pasar Manis Ciamis jadi sorotan karena masih nampak sampah berserakan di beberapa tempat.
 
* TPA Ciamis sudah terkontrol dengan baik sehingga nilainya relatif tinggi. Secara makro, semua parameter diukur, mulai dari anggaran, SDM, hingga fasilitas seperti Bank Sampah Induk, bank sampah unit, TPS 3R, dan TPST. Semua itu dihitung secara nasional

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Kabupaten Ciamis mencatatkan capaian membanggakan dalam tata kelola persampahan nasional, namun kondisi kebersihan di Pasar Manis Ciamis jadi sorotan karena masih nampak sampah berserakan di beberapa tempat.

Hal tersebut disampaikan langsung Menteri Lingkungan Hidup RI, Hanif Faisol Nurofiq, saat melakukan kunjungan ke Kabupaten Ciamis di tengah guyuran hujan, Minggu (1/2/2026) sore.

Dalam agendanya hari ini, Hanif dan jajarannya melakukan kunjungan atau sidak ke beberapa tempat diantaranya permukiman warga di Bolenglang, lalu ke Pasar Bojong dan ke Permukiman Warga Bojongmengger, kemudian ke Bank Sampah Induk dan terakhir ke Pasar Manis Ciamis.

Berdasarkan hasil pemantauan Kementerian Lingkungan Hidup selama satu tahun terakhir, Ciamis menjadi kabupaten dengan nilai tertinggi dalam penilaian pengelolaan sampah dari total 514 kabupaten/kota se-Indonesia.

Ia menyebut Ciamis memiliki potensi kuat meraih penghargaan Adipura, meski masih terdapat sejumlah catatan yang harus segera disempurnakan.

Baca juga: FKUB Ciamis Gelar Sarasehan Lintas Iman, Indeks Kerukunan Umat Beragama 2025 Tembus 83,50

“Secara prinsipil, berdasarkan kerangka penilaian tata kelola sampah nasional, Kabupaten Ciamis hari ini menjadi satu-satunya kabupaten dari 514 kabupaten kota yang memiliki nilai tertinggi,” ujar Hanif kepada wartawan saat diwawancarai di Bank Sampah Induk Ciamis.

Menurutnya, penilaian dilakukan secara komprehensif selama satu tahun, termasuk kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), sistem penganggaran, sumber daya manusia, hingga ketersediaan dan fungsi fasilitas pengelolaan sampah.

“TPA Ciamis sudah terkontrol dengan baik sehingga nilainya relatif tinggi. Secara makro, semua parameter diukur, mulai dari anggaran, SDM, hingga fasilitas seperti Bank Sampah Induk, bank sampah unit, TPS 3R, dan TPST. Semua itu dihitung secara nasional,” jelasnya.

Hanif menambahkan, berdasarkan hasil evaluasi sementara, nilai Ciamis saat ini berada di posisi paling tinggi secara nasional, sehingga memiliki peluang besar memperoleh reward sebagai kota/kabupaten bersih melalui predikat Adipura.

Namun demikian, sebelum penghargaan tersebut ditetapkan, Kementerian Lingkungan Hidup akan melakukan pengecekan langsung ke lapangan, terutama di sudut-sudut kota dan wilayah permukiman.

Baca juga: Rumah Semi Permanen di Kawali Ciamis Terbakar, Damkar Kerahkan Dua Unit Armada

“Di beberapa sudut kota, tadi kami masih melihat hal-hal yang harus terus ditingkatkan oleh Bapak Bupati dan jajarannya. Tapi secara teknis, harus diakui bahwa hampir di seluruh komponen desa dan masyarakat Ciamis sudah melakukan pemilahan sampah,” katanya.

Ia bahkan mengaku terkejut saat melihat praktik pemilahan sampah telah dilakukan hingga ke tingkat rumah tangga paling sederhana.

“Tadi teman-teman wartawan juga melihat langsung, pada rumah yang sangat sederhana pun sudah memilah sampahnya. Ketika ditanya kenapa, jawabannya sederhana: karena sampahnya bisa dijual,” ungkap Hanif.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved