Kamis, 14 Mei 2026

Tradisi Jamasan Membersihkan Benda Pusaka Peninggalan Bupati Ciamis, Digelar Bulan Ini

Tradisi Jamasan Membersihkan Benda Pusaka Peninggalan Bupati Ciamis, Digelar Bulan Ini

Tayang:
Penulis: Ai Sani Nuraini | Editor: ferri amiril
tribunpriangan.com/ai sani nuraini
JAMASAN - Prosesi jamasan atau membersihkan benda pusaka peninggalan Bupati RAA Kusumadiningrat kembali dilakukan di bulan Rabiul Awal atau Maulid setiap tahunnya bertempat di Situs Jambansari, Ciamis 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini


TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Prosesi jamasan atau membersihkan benda pusaka peninggalan Bupati RAA Kusumadiningrat kembali digelar di bulan Rabiul Awal atau Maulid setiap tahunnya.

Kepulan asap dupa dan kemenyan yang menghasilkan wangi khas itu menyeruak menyelimuti udara pagi di Situs Jambansari, Kabupaten Ciamis, Minggu (14/9/2025).

Ratusan masyarakat mulai dari Ciamis hingga luar daerah berkumpul khidmat menyaksikan Jamasan Pusaka, tradisi adat Sunda yang diwariskan turun-temurun oleh kasepuhan Galuh dan Jambansari.

Sejak pagi, para sesepuh berjajar di barisan depan, mengenakan busana adat Sunda pangsi hitam-putih dengan ikat kepala khas.

Di hadapan mereka telah tersusun perlengkapan ritual untuk jamasan pusaka diantaranya tujuh tangkai bunga sedap malam, kendi besar berisi campuran tujuh mata air, sesajen, bubur beureum bodas, kelapa muda, hingga nyiru berisi buah dan jajanan manis, semua sarat simbol dan makna.

jamasanlagi
JAMASAN - Prosesi jamasan atau membersihkan benda pusaka peninggalan Bupati RAA Kusumadiningrat kembali dilakukan di bulan Rabiul Awal atau Maulid setiap tahunnya bertempat di Situs Jambansari, Ciamis

Sekitar pukul 09.30 WIB, tujuh pemuda membawa kendi berisi air dari tujuh mata air keramat seperti Air Nusantara, Air Jambansari, Air dari Situ Lengkong Panjalu, Air Cikawali Astana Gede Kawali, Air Citeguh Kahuripan Karangkamulyan, Air dari Pancawarna Galuh Salawe, dan dari Pulo Majeti. 

Air ini kemudian disatukan sebagai inti ritual, sebelum digunakan untuk mencuci tujuh keris pusaka dan satu tongkat.

Menurut juru kunci Situs Jambansari, Nandang Sembada Putra, setiap mata air dipercaya memiliki karomah atau keberkahan spiritual tersendiri.

“Seperti halnya sumur Zamzam membawa keberkahan, begitu pula mata air di tanah Sunda. Saat disatukan, berkahnya pun menyatu,” jelasnya, Senin (15/9/2025).

Prosesi jamasan dimulai sekira pukul 10.30 WIB, pusaka yang dibungkus kain putih, diantarkan pemuda, lalu dicuci oleh para sepuh sambil diiringi rajah. 

Ketika jamasan dimulai, suasana hening, sakral, dan penuh penghormatan menyelimuti prosesi tersebut.

Namun jamasan pusaka bukan sekadar mencuci benda bersejarah. 

Setiap perlengkapan mengandung filosofi mendalam. Nyiru, misalnya, dimaknai sebagai simbol ruh perempuan (Nyi-Ru) yang menjadi sumber kehidupan.

Buah dalam nyiru melambangkan harapan agar usaha manusia “kaala buahna” atau berbuah hasil. Jajanan manis bermakna doa agar hidup terasa ringan.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved