Sosok Abah Landoeng, Romusha Terakhir dari Sunda yang Memilih Mengabdi Jadi Guru
Abah Landoeng, Romusha terakhir dari Sunda yang akhirnya memilih mengabdikan diri menjadi guru pendidik
TRIBUNPRIANGAN.COM, BANDUNG - Landoeng Soewarno sudah berumur 100 tahun atau seabad pada Juli 2025. Namun pejuang yang akrab disapa Abah Landoeng ini masih mengingat jelas bagaimana cemburunya Jepang ketika Belanda dibuatkan goa di Dago, Kota Bandung. Alhasil pekerja Romusha seperti Abah Landoeng harus kembali bekerja membuat goa yang kini dikenal sebagai Goa Jepang.
Para pekerja Romusha seperti Abah Landoeng tak hanya mengerjakan pembangunan goa, tapi membuat jalan Dago yang dulunya masih perbukitan. Ia bersama sang ayah kerap mendapat siksaan seperti ditampar dan dijemur jika tak menuruti perintah tentara Jepang. Tercatat sebagai pekerja Romusha, nama Abah Landoeng masuk dalam katalog buku di Museum Belanda. Namanya tak asing di dua negara tersebut karena foto dan kisahnya selalu terpampang dalam setiap pameran sejarah.
Meski sudah terlihat keriput di tulang pipi, namun sosok Abah Landoeng terlihat masih sehat dan masih menikmati momen kemerdekaan di Kota Bandung di bulan Agustus ini. Sebelum hari kemerdekaan hingga kemarin Selasa (19/8/2025), Abah Landoeng turut berkeliling bersilaturahmi dengan kolega dan para pejabat di Gedung Sate.
Satu peristiwa yang paling berkesan adalah saat diutus oleh Presiden Soekarno menjadi relawan guru untuk mengentaskan buta aksara dan kebodohan. Abah Landoeng menceritakan ada 96 relawan guru di misi Dwikora saat itu yang pada umumnya adalah orang Sunda.
"Sunda itu perkasa, Sunda itu berani," ucap Abah Landoeng, menggambarkan betapa hebatnya orang Sunda saat itu.
Baca juga: Semarak 17 Agustus, Perang Lodong Jadi Tradisi Warga Ciseda Tasikmalaya di Hari Kemerdekaan
Lahir di Bandung 11 Juli 1926 silam, masa remaja dan masa muda Abah Landoeng dihabiskan untuk mengabdi kepada bangsa. Termasuk memutuskan untuk menjadi relawan guru yang di belakangnya terdapat pasukan. Menjadi relawan guru ternyata menyelamatkan nyawanya hingga saat ini. Ia menyebut pihak lawan ternyata sangat menjunjung dan menghormati profesi guru.
Pada perjuangan kemerdekaan Abah Landoeng sejak 1945 - 1955 menjadi relawan pemberantasan buta huruf. Pada periode ini Abah Landoeng melaksanakan gerakan PBH (Pemberantasan Buta Huruf) dari gagasan Rd. Karsuci, Rd.
Pada 1948 - 1962 tercatat sebagai relawan pemberantasan DI/TII di Jawa Barat. Lainnya pada tanggal 18 – 28 April 1955 tercatat sebagai Panitia Konperensi Asia Afrika (KAA) 1955. Peran Abah Landoeng pada KAA 1955, ia dikenal hingga kini sebagai pengumpul/penyedia kendaraan bagi para delegasi.
Landoeng yang dikenal cukup dekat dengan Presiden RI Soekarno dan Roeslan Abdulgani serta tokoh nasional era 1950-an di Indonesia, di antaranya pada 19 Desember 1961 s/d 15 Agustus 1962 mengikuti Misi Trikora ke Irian Jaya. Lalu, pada tahun 1963 sd 1966 ditugas- kan Presiden RI Ir. Soekarno ke Malaysia dalam misi Dwikora, salah satu tugasnya dalam hal Pemberantasan Buta Huruf, serta tugas sosial lainnya.
Guru Iwan Fals
Abah Landoeng dikenal juga sebagai pensiunan guru SMPN 2, SMPN 5, SMAN 3 dan SMAN 5 Kota Bandung.
Ia juga populer dikenal sebagai guru privat anak-anak petinggi di Kota Bandung pada era kemerdekaan. Salah satunya, penyanyi balada Indonesia Virgiawan Liestantio dengan nama panggung Iwan Fals pada (tahun 1970-an). Iwan Fals itu salah satu muridnya. Lagu Iwan Fals berjudul Oemar Bakrie, kata banyak orang menggambarkan sosok guru yang fenomenal.
Riwayat pendidikan Abah Landoeng, yakni tamatan Ho- lladsch Inlandsche School (HIS) se- tingkat SD, tahun 1936. Lalu dilanjut ke jenjang Meer Uitgebreid Lager Onder- wijs (MULO) setingkat SMP 1939. Dan dilanjut dengan Algemene Middlebare School (AMS)/Hoogere Burgerschool (HBS) setingkat SMA tahun 1942. Setelah kemerdekaan pada 1945, ia mengikuti pendidikan SGB Bawah tamat tahun 1954), serta SGA Sekolah Guru Atas yang ditamatkan pada 1959, terakhir mengikuti PTPG 1963 selama 1 tahun.
Hamzah dan Hartoyo selaku Kepala Sekolah SMPN 5 Bandung. Pada 1955 - 1957 ia mengajar setingkat Sekolah Rakyat (SR) yang saat itu baru ada satu kelas di Desa Cisimeut, Kecamatan Leuwi Damar, (kini) Provinsi Banten. Selanjutnya pada 1956 diangkat menjadi PNS dan ditugaskan menjadi guru fisika di SMPN 2 dan 5 Kota Bandung. Singkatnya secara formal akhir mengikuti PTPG 1963 selama 1 tahun.
Duta KPK "Jujur Itu Hebat"
Abah Landoeng
Romusha
Landoeng Suwarno
Belanda
Jepang
Goa Jepang
guru
perjuangan
kemerdekaan
Kota Bandung
Dwikora
Iwan Fals
Sunda
sosok
| 6 Spot untuk Merayakan Malam Tahun Baru 2025 di Kota Bandung, Bisa Lihat Atraksi Kembang Api |
|
|---|
| 16 Titik Rawan Kemacetan Malam Tahun Baru di Kota Bandung, Begini Tips Cari Jalan Alternatif |
|
|---|
| 5 Resto Sunda di Bandung yang Jadi Rekomendasi Artis, Cocok Buat Kulineran Malam Tahun Baru |
|
|---|
| Marc Klok Absen Lawan Kediri Tapi Siap Hadapi Persija |
|
|---|
| Dilarang Menyalakan Kembang Api di Bandung saat Malam Tahun Baru, Satpol PP Akan Awasi Ketat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/priangan/foto/bank/originals/abahlandoeng.jpg)