Kamis, 11 Juni 2026

Naskah Khutbah Jumat

Naskah Singkat Khutbah Jumat 15 Agustus 2025: Kemerdekaan dan Nasionalisme dalam Bingkai Agama

Berikut Naskah Singkat Khutbah Jumat 15 Agustus 2025: Kemerdekaan dan Nasionalisme dalam Bingkai Agama

Tayang:
Tribunpriangan.com/Dedy Herdiana
NASKAH KHUTBAH JUMAT - Sejumlah jamaah saat mendengar khutbah Jumat di Masjid Agung Trans Studio Bandung, Jumat (21/2/2025). Berikut Naskah Singkat Khutbah Jumat 15 Agustus 2025: Kemerdekaan dan Nasionalisme dalam Bingkai Agama 

Kedua, nasionalisme yang sejati adalah sikap memegang teguh janji setia terhadap bangsa dan negara, sehingga tidak akan mengkhianati negaranya untuk mendapatkan kepentingan pribadi dan kelompok. Nasionalisme akan melahirkan keteguhan di dalam hati seseorang untuk mempertahankan rasa cinta kepada tanah air.

Ia akan melakukan segala upaya untuk membangun bangsa dan menghindari perbuatan yang dapat merugikan dan menghancurkan negara karena pada hakikatnya, Allah swt menitipkan negara dan tanah air Indonesia kepada seluruh rakyat Indonesia untuk dimakmurkan, bukan untuk dieksploitasi. Hal ini ditegaskan dalam surat Hud, ayat 61 sebagai berikut:

هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

Artinya: “Dia telah menciptakan kalian dari bumi (tanah) dan menjadikan kalian untuk memakmurkannya.”

Baca juga: Teks Khutbah Jumat 15 Agustus 2025/21 Safar 1446 H: Kemerdekaan dan Kebebasan Ajaran Rasulullah

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Ketiga, nasionalisme yang sejati adalah sikap menjunjung tinggi nilai-nilai bangsa dan negara seperti menghormati bendera negara, simbol negara, lagu kebangsaan, dan segala hal yang tidak bisa dilepaskan dari negara. Perbedaan bahasa dan daerah tidak boleh memisahkan persatuan bangsa karena bangsa Indonesia terikat dengan nilai-nilai luhur di atas.

Seluruh rakyat Indonesia berdiri di atas tanah yang sama, tanah air Indonesia. Oleh karena itu, cinta terhadap tanah air harus lebih dikedepankan dari pada cinta terhadap kelompok. Nabi Muhammad saw mengajarkan kita cinta kepada tanah air ketika meninggalkan kota Makkah sebagaimana yang dikutip imam al-Tirmidzi dalam kitab Sunan al-Tirmidzi sebagai berikut:

مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ وَأَحَبَّكِ إِلَىَّ وَلَوْلاَ أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

Artinya: “Engkau (Mekkah) adalah negeri Allah yang paling aku cintai, dan kalau penduduknya tidak mengusirku, tentu aku tidak akan meninggalkan engkau.”

Ketika Nabi Muhammad saw memasuki kota Madinah, ia juga bersabda sebagaimana yang dikutip oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih keduanya sebagai berikut:

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ، كَمَا حَبَّبْتَ إِلَيْنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah Madinah sebagai kota yang kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah atau bahkan lebih dari itu.”

Baca juga: Teks Khutbah Jumat 15 Agustus 2025: Bersyukur Kemerdekaan Berhubungan dengan Perjuangan Palestina

Hadirin sidang Jumat yang dirahmati Allah,

Satu hal yang harus kita ingat bahwa tanpa Indonesia, kita hanya ikan yang tidak memiliki lautan dan kita hanya burung yang tidak memiliki udara. Apa yang kita rasakan saat ini adalah buah pengorbanan para pendahulu bangsa. Maka kewajiban kita adalah mempertahankan sikap nasionalisme di dalam diri kita dan generasi selanjutnya.

Semoga kita dapat mengaktualisasikan nilai-nilai nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari, yaitu dengan siap berkorban untuk tanah air, memegang janji setia kepada tanah air, dan mencintai tanah air dengan sepenuh hati. Amin, ya Rabb al-‘Alamin.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved