Selasa, 2 Juni 2026

Bulog Sebut Belum Ada Kasus Beras Oplosan di Bandung Raya

Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdivre Jawa Barat menyatakan belum ditemukan kasus beras oplosan di Bandung Raya

Tayang:
Editor: ferri amiril
tribunpriangan.com/kiki andriana
BULOG - Pemimpin Cabang BULOG Cabang Bandung, Ashville Nusa (kiri) saat ditemui Tribun Jabar.id, di Pasar Tanjungsari, Sumedang, Rabu (16/7/2025). 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com, Kiki Andriana dari Sumedang

TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG - Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdivre Jawa Barat menyatakan belum ditemukan kasus beras oplosan di Bandung Raya

Hal itu diungkapkan saat Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Sumedang berkerja sama dengan Dinas Indag Sumedang, dan Bulog Cabang Bandung melakukan inspeksi mendadak kepada pedagang beras di Pasar Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Rabu (16/7/2025) siang. 

Pemimpin Bulog Cabang Bandung, Ashville Nusa Panata mengatakan bahwa Bulog sendiri tidak mengenal kata oplosan, yang ada hanya pengolahan beras sesuai dengan preferensi masyarakat. 

"Kata oplosan tidak kami kenal, tapi yang pasti kami mengolah beras sesuai dengan preferensi konsumen. Ada yang senangnya keras dan pulen, dan secara berkala kita selalu koordinasi dengan APH (aparat penegak hukum), dan kita sering monitoring," katanya. 

Dia memastikan sejauh ini di Bandung Raya yang mencakup Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi, belum ditemukan kasus beras oplosan. 

Baca juga: Pedagang Pasar Tanjungsari Sumedang Kaget Kedatangan Polisi dan Dinas

Sidak di Pasar Tanjungsari ini berkaitan dengan maraknya beras oplosan, sesuai dengan temuan Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman yang menyebut bahwa sejumlah perusahaan besar terlibat upaya pengoplosan beras. 

Beras oplosan ini maksudnya, beras premium dicampur dengan beras yang kualitasnya rendah. Selain pengoplosan ini, Menteri Pertanian juga menemukan upaya mengurangi takaran. 

"Sampai sejauh ini belum ditemukan ya, kita sudah kerja sama dengan teman-teman dinas dan APH, kita tidak menemukan yang namanya oplosan," katanya. 

Bulog dan dinas pertanian bekerja pada tataran pasar, jika ada temuan tentang pengoplos beras, maka untuk tindak lanjutnya adalah ranah para penegak hukum. 

"Kalau ke perusahaan, kami dengan dinas levelnya di pasar. Monitoring, dan Bulog mengerti beras, maka kita kasih masukan. Kalau ada yang melanggar nanti urusan APH," katanya. 

Ditanya soal stok beras di Bandung Raya, dia memastikan stok aman untuk enam bulan ke depan. Saat ini, beras hasil serapan dari petani mencapai 20.000 ton. 

"Kami mengelola hasil serapan awal tahun, di angka 20.000 ton se-Bandung Raya, dan akan kita keluarkan berdasarkan perintah pemerintah melalui bantuan sosial," 

"Estimasi lebih dari cukup, untuk 6 bulan lebih jika dikonversi sesuai angka per kapita se-Bandung Raya," katanya.(*)

Sumber: Tribun Priangan
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved