Kamis, 14 Mei 2026

Kisruh Tabungan Murid SD Mandek di Pangandaran, Tokoh Masyarakat Ungkap Hal Ini

Agus menyayangkan, penyalahgunaan dana tabungan murid oleh oknum guru yang hingga kini belum terselesaikan

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Padna | Editor: Dedy Herdiana
Tribunpriangan.com/Padna
Tokoh masyarakat yang juga sebagai Ketua PHRI Kabupaten Pangandaran, Agus Mulyana saat ditemui di kantornya di Pantai Timur Pangandaran, Kamis (10/7/2025). 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Kasus uang tabungan murid sekolah dasar (SD) yang hingga kini belum dikembalikan oleh pihak sekolah terus menjadi sorotan publik di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. 

Selain menjadi perhatian pejabat dan organisasi masyarakat, kasus ini juga menuai kritikan dari tokoh masyarakat.

Satu di antaranya muncul dari Agus Mulyana seorang tokoh masyarakat yang tinggal di kawasan wisata Pantai Pangandaran.

Agus menyayangkan, penyalahgunaan dana tabungan murid oleh oknum guru yang hingga kini belum terselesaikan. Ia menilai, kasus itu telah mencoreng dunia pendidikan di Pangandaran.

"Tabungan anak-anak dipakai bajakan oleh oknum guru untuk kepentingan usahanya. Tapi usahanya macet dan akhirnya tidak bisa mengembalikan," ujar Agus kepada Tribun Jabar di Pangandaran, Jumat (11/7/2025) siang.

Baca juga: Disdikpora Pangandaran Minta Mantan Kepsek Tanggung Jawab Atas Kisruh Tabungan Murid SDN 1 Mekarsari

Agus pun mengaku menerima informasi bahwa dana tabungan siswa yang dipinjam oknum guru diputar dengan sistem seperti praktik rentenir untuk mendapatkan keuntungan lebih besar. 

Ia menduga, peminjaman uang tabungan di sekolah itu dilakukan atas dasar persetujuan kepala sekolah di tempat tugasnya.

"Kan gede itu hasilnya, dan saya yakin waktu pinjam sudah persetujuan Kepala Sekolah. Tidak mungkin seorang guru pinjam tanpa diberi persetujuan," katanya.

Atas dasar hal itu, Agus meminta pihak Disdikpora Kabupaten Pangandaran untuk menghentikan program menabung siswa yang dikelola internal sekolah. Menurutnya, sistem itu rawan disalahgunakan jika tidak ada pengawasan yang ketat.

Sebagai solusi, Ia menyarankan agar sekolah bekerja sama dengan lembaga perbankan daerah agar tetap menumbuhkan budaya menabung di kalangan siswa.

"Kelebihan menyimpan di perbankan tentu ada keuntungan berupa bunga. Nah, itu kan bagus secara edukatif dan lebih aman," ucap Agus.

Sumber: Tribun Priangan
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved