Dedi Mulyadi Sebut Kabupaten Pangandaran Setengah Sekarat Dinilai Bullying dan Tidak Negarawan

Asep menyebut, dalam video yang beredar, Dedi Mulyadi melontarkan stigma negatif terhadap kabupaten/kota tanpa empati terhadap kondisi faktual

Penulis: Padna | Editor: Dedy Herdiana
Tribunjabar.id/Nazmi Abdurahman
GUBERNUR DEDI MULYADI - Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (16/4/2025). Pernyataan Gubernur Jabar dinilai aktivis Pangandaran telah melakukan bullying. 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Pernyataan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi soal kondisi Kabupaten Pangandaran setengah sekarat menuai kontroversi dan mendapat reaksi keras dari sejumlah aktivis.

Satu di antaranya, aktivitis muda dari Komunitas Rumah Perjuangan 145 Pangandaran, Asep Saepudin menilai, ucapan yang disampaikan dalam nada candaan Gubernur Jabar itu dinilai sebagai bentuk bullying dan sikap yang tidak mencerminkan seorang negarawan.

Dedi Mulyadi menyebut beberapa daerah di Jawa Barat mengalami kondisi keuangan yang buruk.

Pernyataan itu disampaikan dengan gaya bercanda yang dianggap tidak pantas diucapkan oleh pejabat publik.

"Ucapan Gubernur itu justru merendahkan martabat masyarakat serta mencederai semangat pembangunan daerah," ujar Asep melalui WhatsApp, Kamis (12/6/2025) sore.

Baca juga: KDM Sebut Kabupaten Pangandaran Setengah Sekarat, Bupati Citra: Itu Jadi Motivasi untuk Bangkit

Asep menyebut, dalam video yang beredar, Dedi Mulyadi melontarkan stigma negatif terhadap kabupaten/kota tanpa empati terhadap kondisi faktual yang dihadapi.

Seharusnya, Gubernur sebagai pemimpin Provinsi memberikan motivasi, bukan malah menyindir atau menjatuhkan daerah yang sedang berjuang membenahi diri.

"Kalau pernyataan seperti itu dibalas, publik bisa mempertanyakan sejauh mana kepemimpinan Dedi Mulyadi berhasil saat menjabat Bupati Purwakarta atau pada posisi lain," katanya 

Ia menyindir Dedi Mulyadi mungkin hanya terlihat baik di media sosial, namun belum tentu sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Untuk itu, Asep menyarankan agar Dedi Mulyadi meminta maaf secara terbuka atas ucapan yang berpotensi menyakiti perasaan masyarakat dan Pemerintah Daerah.

Menurutnya, pernyataan bernada merendahkan itu bisa memicu konflik horizontal dan berdampak pada terganggunya konsentrasi pembangunan.

Jika memang memiliki visi membangun Jawa Barat, Dedi Mulyadi seharusnya hadir dengan solusi, bukan pernyataan kontroversial yang memancing emosi.

"Ini bukan kritik membangun, tapi komunikasi politik yang agresif dan populis, tanpa memberi dampak nyata bagi perbaikan daerah," ucap Asep.

Baca juga: Respons Wakil Rakyat Fraksi PDI-P, Ketika Dedi Mulyadi Sebut Kabupaten Pangandaran Setengah Sekarat

Sumber: Tribun Priangan
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved