Rabu, 13 Mei 2026

Kades Minta Anak 9 Korban Ledakan Bom di Selatan Garut Diberi Santunan Pendidikan

Kades Minta Anak 9 Korban Ledakan Bom di Selatan Garut Diberi Santunan Pendidikan

Tayang:
Penulis: Sidqi Al Ghifari | Editor: ferri amiril
tribunpriangan.com/sidqi al ghifari
MINTA SANTUNAN - Kades Minta Anak 9 Korban Ledakan Bom di Selatan Garut Diberi Santunan Pendidikan 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com Garut, Sidqi Al Ghifari 


TRIBUNPRIANGAN.COM, GARUT - Kepala Desa Sagara Alit Saripudin meminta ada santunan pendidikan untuk anak 9 warga sipil korban ledakan bom.

13 orang tewas dalam tragedi ledakan amunisi kedaluarsa di Garut, 4 di antaranya merupakan anggota TNI.

Setelah kejadian itu, warga memprotes aktivitas peledakan di kawasan Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat itu.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Desa Sagara Alit Saripudin, ia menyebut ada beberapa permintaan warganya atas kejadian itu.

"Satu, tolong tutup selamanya aktivitas peledakan di area tersebut, sekarang tidak seperti zaman dulu. Sekarang banyak warga yang sudah mukim dekat lokasi," ujarnya kepada Tribun, Rabu (14/5/2025).

Ia menuturkan, warga merasa khawatir akan keselamatan mereka akibat aktivitas peledakan yang dilakukan di sekitar pemukiman. 

Menurutnya, getaran dan suara ledakan sangat mengganggu kenyamanan dan bisa membahayakan struktur bangunan rumah warga.

"Kedua, tolong proses penyelidikan atas meninggalnya 9 warga sipil dibuka ke publik, dan transparan," ungkapnya.

Kemudian lanjut Alit, warga juga meminta agar keluarga 9 korban diberikan hak santunan dan jaminan pendidikan untuk anak-anak yang ditinggalkannya.

Termasuk rehabilitasi kerusakan lingkungan di kawasan peledakan amunisi yang saat ini dinilai dalam kondisi rusak.

"Ini kan statusnya kawasan BKSDA, tolong kembalikan fungsinya jangan dirusak," ungkapnya.

Hal serupa juga disebutkan oleh Oon (70) ibunda dari Iyus korban ledakan maut amunisi kadaluarsa di lokasi tersebut.

Ia meminta pemerintah menutup aktivitas peledakan di Desa Sagara. Menurutnya selama puluhan tahun ini sudah banyak memakan korban.

"Tolong tutup saja, cukup anak saya yang terakhir jadi korban, sejak puluhan tahun memang sering ada korban cacat," ujarnya saat ditemui Tribun.(*)

Sumber: Tribun Priangan
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved