Sabtu, 18 April 2026

Ramadan 2025

Naskah Kultum Tarawih 17 Ramadan 1446 H: Mentadabburi Al Quran

Berikut Naskah Kultum Tarawih 17 Ramadan 1446 H: Mentadabburi Al Quran

Kolase TribunPriagan.com
NASKAH KULTUM RAMADHAN - Naskah Kultum Tarawih 17 Ramadan 1446 H: Mentadabburi Al Quran. (Dok: Printeres/Assunnah) 

TRIBUNPRIAGAN.COM - Tribuners, 17 Ramadan kerap diperingati sebagai Nuzulul Quran atau malam turunnya Al Quran.

Al Quran memiliki segudang keutamaan yang isi dan kandungannya dapat menuntun umat Islam menuju keselamatan di dunia dan akhirat.

Kali ini pembahasan Nuzulul Quran dapat menjadi tema untuk naskah kultum tarawih 17 Ramadan 1446 H atau 17 Maret 2025.

Kultum adalah akronim dari kuliah tujuh menit yang berisi pesan atau nasihat kebaikan kepada sesama muslim di depan umum.

Kultum biasanya disampaikan oleh pendakwah, ustaz, tokoh atau para bapak yang memiliki tanggung jawab untuk mengisi sesi tersebut.

Nuzulul Quran, Momen Mengenal Keagungan Al-Qur'an

Ma'asyiral muslimin, RahimakumuLlah..

Nuzulul Quran diperingati sebagai salah satu momen sejarah dalam ajaran Islam, yang dimaknai saat hari turunnya Al-Quran.

Dimana momen ini dapat dimaknai sebagai bukti untuk mengigatkan kembali apa Al-Quran itu, bagaimana Al-Quran diturunkan, serta mengingat kembali keagungan Al-Qur'an.

Dikutip dari NU Online, secara bahasa, Al-Qur'an memiliki persamaan kata, yakni al-qiraah yang memiliki arti bacaan. Hal ini terungkap dalam QS. Al-Qiyamah ayat 17-18 berikut ini :  

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ . فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

Baca juga: 3 Naskah Kultum 17 Ramadhan 1446 H, Spesial Malam Nuzulul Quran dengan Makna Menyentuh

Artinya, "Sesungguhnya tugas Kamilah untuk mengumpulkan (dalam hatimu) dan membacakannya. Maka, apabila Kami telah selesai membacakannya, ikutilah bacaannya itu."  Kemudian para ulama mendefinisikannya dalam ilmu al-Qur'an, bahwa al-Qur'an :    

الْكَلَامُ الْمُعْجِزُ الْمُنَزَّلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَكْتُوْبُ فِى الْمَصَاحِفِ الْمَنْقُوْلُ بِالتَّوَاتُرِ الْمُتَعَبَّدُ بِتِلَاوَتِهِ   

Artinya : "Kalam (Allah SWT) yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, tertulis dalam mushaf yang dikutip secara mutawatir (berturut-turut dan dilakukan oleh banyak orang) serta dianggap beribadah dengan membacanya". (Muhammad Abdul 'Adhim Az-Zarqani, Manahilul 'Irfan Fi Ulumil Qur'an, [Beirut: Darul Kitab Al-'Arabi, 1995], Juz II, hal. 21).

Menurut pendapat yang masyhur, pada bulan Ramadhan, Al-Qur'an diturunkan secara keseluruhan dari Lauhul Mahfudz (pusat informasi semesta) ke Baitul 'Izzah (rumah ibadah penduduk langit) di langit dunia. Hal ini merujuk pada QS. Al-Baqarah: 185, QS. Ad-Dukhan: 3, dan QS. Al-Qadar: 1. Setelah itu, malaikat Jibril AS menurunkannya secara bertahap, yang berisi perintah, larangan, dan berbagai sebab. Proses penurunan Al-Qur'an secara bertahap ini berlangsung selama sekitar dua puluh tahun (Muhammad Bin Ahmad Bin Abu Bakar al-Qurthubi, al-Jami' Li Ahkamil Qur'an, [Beirut: Muassasah al-Risalah, 2006], Jilid III, hal. 160-161). 

Kalam Allah SWT pada definisi di atas merupakan penegasan, bahwa tidak ada kalam manusia, jin dan malaikat di dalam Al-Qur'an. Dan sejalan dengan keagungan Allah SWT, kalam-Nya juga merupakan hal yang agung. Sehingga hal ini menarik minat umat Islam yang ingin diajak bicara oleh Allah SWT. Baik dengan membacanya maupun menghafalnya. 

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved