Selasa, 12 Mei 2026

Sosok Mas Duren Seorang Muslim Penjaga Kelenteng Hok Tek Bio Ciamis

Di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, berdiri Klenteng Hok Tek Bio, satu-satunya tempat ibadah umat Khonghucu di daerah tersebut

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Ai Sani Nuraini | Editor: ferri amiril
tribunpriangan.com/ai sani nuraini
Di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, berdiri Klenteng Hok Tek Bio, satu-satunya tempat ibadah umat Khonghucu di daerah tersebut 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini


TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS - Di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, berdiri Klenteng Hok Tek Bio, satu-satunya tempat ibadah umat Khonghucu di daerah tersebut.

Di balik keindahan dan aktivitas klenteng yang selalu ramai saat perayaan Tahun Baru Imlek, ada sosok menarik bernama Durani Suprianto (50) namun lebih akrab disapa Mas Duren.

Uniknya, Mas Duren adalah seorang muslim yang telah menjadi penjaga setia klenteng selama kurang lebih dari 20 tahun.

Mas Duren memulai pekerjaannya di klenteng pada tahun 2005, saat itu, ia melihat peluang ketika Klenteng Hok Tek Bio membuka lowongan penjaga. 

Sebelumnya, ia bekerja di sebuah toko matrial milik warga keturunan Tionghoa.

"Saya langsung terpikir untuk mencoba melamar. Waktu itu ada beberapa yang daftar, tapi Alhamdulillah saya diterima," kenang Duren, Senin (20/1/2025).

Tugasnya tidak hanya menjaga keamanan klenteng, tetapi juga merawat dan mengelola berbagai kebutuhan operasional, terutama menjelang hari-hari besar seperti Imlek.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kesibukan Mas Duren meningkat menjelang perayaan Imlek 2576 Kongzili.

Sejak dua pekan terakhir, ia mengurus segala keperluan untuk memperindah klenteng, bersama tim pengurus lainnya, ia membersihkan dan mengecat area klenteng, memasang bendera, umbul-umbul, dan lampion.

Tahun ini, total ada 330 lampion yang dipasang untuk mempercantik Klenteng Hok Tek Bio

Sebagian besar lampion sudah dilengkapi dengan lampu, sehingga klenteng tampak semakin semarak di malam hari. 

Menurut Duren, kesibukannya menjelang Imlek adalah momen yang ia nantikan setiap tahun, meski pekerjaannya tak bisa dibilang ringan.

“Biasanya, saya harus naik turun tangga untuk memasang lampion di bagian depan klenteng. Selain itu, ada juga pekerjaan seperti membersihkan patung dewa, menata altar, dan membantu persiapan untuk sembahyang Imlek. Meski lelah, rasanya puas melihat hasilnya,” ungkapnya.

Duren mengenang masa-masa awalnya bekerja di klenteng. Sebelum menikah pada tahun 2011, ia bahkan tinggal di dalam klenteng karena tugasnya membutuhkan kehadiran setiap saat. 

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved