Senin, 20 April 2026

Cara Berkendara yang Benar di Jalan Menurun dan Saat Hujan Agar Tak Celaka Seperti di Tol Cipularang

Cara berkendara yang benar di jalan menurun atau saat hujan agar terhindar dari kecelakaan seperti di Tol Cipularang KM 92

Editor: Machmud Mubarok
Kolase TribunPriangan.com
Rekaman Amatir Dasbor Ambulance saat Kecelakaan Beruntun di Tol Purbaleunyi Km 92 

TRIBUNPRIANGAN.COM, JAKARTA - Cara berkendara yang benar di jalan menurun atau saat hujan agar terhindar dari kecelakaan seperti di Tol Cipularang KM 92.

Sebagaimana diketahui, kecelakaan yang melibatkan sebuah truk bermuatan berat terjadi di ruas Tol Cipularang Km 92 arah Bandung menuju Jakarta, Senin (11/11/2024) sore.

Insiden yang menyebabkan satu orang meninggal dunia dan puluhan lainnya luka itu menambah daftar panjang kecelakaan beruntun yang terjadi di Tol Cipularang, Jawa Barat. 

Setidaknya ada enam insiden kecelakaan di sekitar Km 91-104 yang memakan korban jiwa. Terbaru, insiden pada Senin lalu diduga disebabkan truk yang mengalami rem blong di jalan menurun dan menabrak 19 unit kendaraan lain di tengah hujan deras.

Kondisi jalanan yang sempit dengan hanya dua lajur disertai kontur yang naik turun dan berkelok panjang pun dinilai menjadi penyebab seringnya kecelakaan di Tol Cipularang.

"Ini tol Cipularang sering bgt terjadi kecelakaan. Byk penyebabnya: jalan tol yg sempit cuma punya 2 lajur, volume kendaraan padat jkt-bdg bgt, jalan yg naik turun & berkelok panjang, pengemudi yg langgar lalin kaya Lane hongger, ngambil jalur darurat, salib sembarangan," tulis akun X @saa***, Senin.

Benarkah kondisi jalanan di menjadi penyebab di balik tingginya kecelakaan di Tol Cipularang?

Baca juga: 22 Korban Laka Beruntun Tol Cipularang KM 92 Masih Dirawat, 4 Orang Luka Berat akan Dioperasi

Baca juga: Kronologi Kecelakaan Beruntun Tol Cipularang KM 92 dari Korban Selamat, Bermula Truk tak Terkendali

Senior Investigator KNKT Ahmad Wildan mengatakan, bukan kondisi lajur dan kontur jalan yang menjadi penyebab maraknya kecelakaan di Tol Cipularang.

"Bukan itu. Elemen geometrik jalan tol di seluruh Indonesia sudah memenuhi regulasi tentang jalan baik yang ada di regulasi nasional maupun internasional," kata dia, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (12/11/2024).

Wildan menjelaskan, tiga elemen geometrik di jalan tol sudah melalui tahap audit dan dipastikan memenuhi ketentuan regulasi. Ketiga elemen geometrik tersebut, meliputi penampang melintang jalan, alinyemen vertikal, dan alinyemen horisontal. Alinyemen vertikal atau jalan menurun merupakan suatu kondisi yang tidak dapat dihindari, terutama pada jalan yang menghubungkan dua tempat dengan ketinggian berbeda.

"Namun, besaran parameternya dipastikan sesuai dengan regulasi," ujar Wildan.

Dia menyebutkan, kecelakaan-kecelakaan di Tol Cipularang dipacu oleh faktor manusia yang tidak memahami teknik mengemudi di jalan menurun ataupun saat hujan.

Dalam wawancara dengen Kompas.com pada 2022, Wildan mengungkapkan, kondisi jalan berupa turunan panjang hingga 4 kilometer kerap membuat pengendara lengah. Ditambah, jalan yang lebar dan mulus membuat pengemudi memacu kecepatan dengan sangat tinggi menggunakan gigi tinggi.

Selain itu, tingginya angka kecelakaan di jalan tol juga disebabkan oleh faktor lelah dan aktivitas kendaraan barang berkecepatan lambat yang tidak taat aturan.

Aktivitas tersebut turut meningkatkan risiko tabrak depan maupun belakang saat berkendara di jalan tol.

Sumber: Kompas
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved