Selasa, 5 Mei 2026

2 Kemungkinan Pemanggilan Calon Menteri oleh Prabowo Menurut Pengamat

Langkah Prabowo yang memanggil sejumlah nama untuk calon menteri bisa saja politis karena dukungan saat Pilpres.

Tayang:
Tribunnews.com
Politikus PKB Abdul Kadir Karding dipanggil Presiden terpilih RI, Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara IV, Kebayoran, Jakarta Selatan pada Senin (14/10/2024) sore. 2 Kemungkinan Pemanggilan Calon Menteri oleh Prabowo Menurut Pengamat 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNPRIANGAN.COM, BANDUNG - Pengamat politik dari Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani), Arlan Siddha menilai ada dua kemungkinan terkait langkah presiden terpilih Prabowo Subianto yang memanggil calon menteri untuk mengisi kabinetnya.

Menurut Arlan, langkah Prabowo yang memanggil sejumlah nama untuk calon menteri bisa saja politis karena dukungan saat Pilpres.

Kedua, kata Arlan, nama-nama yang dipanggil merupakan orang yang kompeten untuk mengisi kabinet di pemerintahan Prabowo.

"Jadi menurut saya apa yang dilakukan Pak Prabowo hari ini tentunya dia ingin memastikan bahwa konteks pilihannya itu disesuaikan dengan situasi politik dan kemampuan perorangan," ujar Arlan saat dihubungi, Senin (14/10/2024).

Arlan menilai, pemanggilan nama-nama itu dilakukan oleh Prabowo karena dia ingin melihat kompetensi dari mereka, sehingga mereka belum tentu masuk ke dalam kabinetnya.

Baca juga: 20 Tokoh Calon Menteri Dipanggil Prabowo Subianto, Berikut Daftar Namanya

Kendati demikian, lanjut Arlan, Prabowo secara garis besar sudah memiliki gambaran akan kabinetnya.

"Tapi saya masih berpikir apa yang dilakukan oleh Pak Prabowo ini ada dua kemungkinan. Pertama memenuhi kuota politisnya dalam konteks dukungan ketika Pilpres kemarin dari partai poltik dan yang kedu memang Pak Prabowo mencoba membangun kabinet yang gemuk tapi diisi oleh orang-orang yang memiliki kompetensi sesuai," katanya.

Sementara terkait kabinet gemuk, kata Arlan, bisa dilakukan Prabowo yang disesuaikan dengan kebutuhan.

Kemungkinan juga, menurut Arlan, supaya memenuhi kuota politik yang memang beberapa partai politik tidak terakomodir untuk menjadi menteri.

Baca juga: Selain Data NPWP, Ada 9 Menteri yang Datanya Bocor Dikantongi Hacker Bjorka, Ini Daftar Menterinya

"Jadi kalau kemudian arahnya untuk mengakomodir kepentingan politik yang mendukung pada saat itu saya pikir ini sebuah kesalahan besar ya. Tapi kalau memang disesuaikan dengan kebutuhan saya pikir oke dan tidak ada masalah," ucap Arlan.

Dia melihat, kabinet yang sudah dibangun Presiden Joko Widodo juga sudah terlalu gemuk, sehingga seharusnya Prabowo tidak melakukan penggemukan di kabinet, tetapi harus mengefektifkan apa yang sudah dibangun oleh Jokowi.

"Tapi ini kan kembali lagi kepada kebutuhan bagaimana Pak Prabowo ini sebenarnya memang ingin membangun pemerintahannya," ujarnya.

Terkait adanya nama yang sebelumnya menjadi lawan politik Prabowo di Pilpres seperti Muhaimin Iskandar, Arlan menilai itu merupakan hal yang biasa dalam politik.

Namun pihaknya khawatir akan nama-nama dari partai politik yang masuk ke pemerintahan Prabowo.

"Itu bisa agak sedikit melemahkan kontrol legislatif terhadap eksekutif karena partai politik terkunci oleh pemasangan kader-kadernya di kabinet," kata Arlan.

Diberitakan sebelumnya, Presiden terpilih Prabowo Subianto mulai memanggil sejumlah tokoh calon menteri Kabinet 2024-2029 ke Jalan Kertanegara IV, Kebayoran, Jakarta Selatan pada Senin (14/10/2024) sore. 

Sedikitnya terdapat 18 tokoh terlihat merapat ke rumah Prabowo Subianto.

Di antaranya, politikus Partai Gerindra, Maruarar Sirait, Politikus Gerindra, Prasetyo Hadi dan Politikus Partai Gerindra Fadli Zon.

Selain mereka ada pula Ketua Yayasan Teladan Utama, Widiyanto Putri Wardhana; aktivis HAM Natalius Pigai; dan Politisi Partai Golkar, Nusron Wahid.

Sementara itu berdasarkan informasi yang dihimpun sudah ada 20 nama yang datang ke rumah Prabowo Subianto.

Berikut 20 nama yang sudah merapat ke Kertanegara:

1. Prasetyo Hadi, Kader Partai Geridra

2. Natalius Pigai, Aktivis HAM

3. Widiyanto Putri Wardhana, Ketua Yayasan Teladan Utama

4. Wihaji, Politisi Golkar

5. Yandri Susanto, Wakil Ketua Umum PAN

6. Fadli Zon, Politisi Partai Gerindra

7. Nusron Wahid, Politisi Partai Golkar

8. Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU

9. Maruarar Sirait, Politikus Partai Gerindra

10. Teuku Riefky Harsya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrat

11. Agus Harimurti Yudhoyono, Ketua Umum Partai Demokrat

12. Dra Arifatul Choiri Fauzi

13. Prof Yassierli

14. Prof Satrio Sumantri Brodjonegoro

15. Tito Karnavian

16. Zulkifli Hasan

17. Prof Yusril Ihza Mahendra

18. Bahlil Lahadalia

19. Abdul Mu'ti

20. Muhaimin Iskandar/Cak Imin

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved