Senin, 13 April 2026

Viral Anak SD Jualan Sayur di Tasik

Mengenal Lebih Dekat Albar, Bocah SD Penjual Sayur di Tasikmalaya

Sebuah gerobak putih terparkir di depan salah satu pintu yang berderet. Pintu-pintu tersebut merupakan sebuah

|
Penulis: Aldi M Perdana | Editor: ferri amiril
Tribun Priangan.com/Aldi M Perdana
Mengenal lebih dekat sosok Albar anak berusia 11 tahun yang berjualan sayur keliling demi bantu orang tua. 

Laporan Jurnalis TribunPriangan.com, Aldi M Perdana

 

TRIBUNPRIANGAN.COM, KOTA TASIKMALAYA - Sebuah gerobak putih terparkir di depan salah satu pintu yang berderet. Pintu-pintu tersebut merupakan sebuah bangunan kontrakan yang terletak di dalam gang kecil dan berada di Kelurahan Argasari, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Di pelataran pintu tersebut, tampak berbagai jenis sayuran di masing-masing alasnya, seperti timun, selada, kol, kunyit, dan semacamnya.

Dari sanalah Albar, anak kecil yang baru berusia 11 tahun, berangkat mendorong gerobaknya untuk berjualan sayur keliling tiap kali ia pulang sekolah.

Saat TribunPriangan.com menjumpai kontrakannya pada pukul 09.00 WIB, Selasa (8/8/2023), Albar tengah menuntut ilmu di sekolah, sementara gerobaknya telah dimuati sayuran yang siap dijajakan olehnya siang nanti.

“Dulu, Albar jualannya di sini, di rumah. Tapi, dia pingin jualan keliling. Sebelumnya sempat jualan keliling cuma ditenteng, terus udah ada modal, sempat beli gerobak kayu. Tapi rusak. Sekarang, alhamdulillah, udah bisa beli gerobak besi ini,” ungkap Yayat Hidayat (36) selaku ayah kandung Albar saat ditemui TribunPriangan.com di rumah kontrakannya.

Diketahui, Albar merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Kakak pertamanya yang baru berusia 16 tahun, telah putus sekolah sejak kelas 1 SMP dan kini kerap membantu sang ayah berjualan sayur pada malam hari di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

Sementara kakak keduanya, baru berusia 13 tahun. Kemudian ketiga adiknya yang merupakan perempuan semua, dua di antaranya masih bersekolah tingkat SD di sekolah yang sama dengan Albar.

“Mulai dari Gilang (red: kakak kedua Albar) sampai pangais bungsu (red: anak kelima), termasuk juga Albar, semuanya pernah pesantren di Miftahul Huda Manonjaya. Tapi, satu-satu keluar karena enggak sanggup biayanya,” lengkap Yayat.

Hal tersebut lantaran dampak dari Covid-19 beberapa tahun yang lalu. Penjualan sayur ditambah kebutuhan rumah tangga menjadi kendala untuk membiayai anak-anaknya bersekolah.

“Belum lagi saya terpaksa utang sana-sini untuk menyambung hidup. Mungkin, dari sanalah Albar merasa dia harus ikut membantu keuangan keluarga. Dia sendiri yang pingin jualan keliling, padahal sebelumnya, cukup jualan di rumah saja,” tutur Yayat.

“Albar ini sosok yang ceria, humoris. Dia yang paling beda sama saudaranya yang lain. Kalau kakak-kakak sama adik-adiknya mah ‘kan pendiem, pemalu. Kalau Albar, ya begitu, suka bercanda,” lanjutnya.

Saat ini, sambung Yayat, kakak kedua Albar yang bernama Gilang lah yang masih bertahan untuk nyantri di Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya.

“Udah, biar aja saya sama adik-adik yang sekolah, gitu katanya,” kata Yayat meniru ucapan Albar.

Sumber: Tribun Priangan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved