Minggu, 3 Mei 2026

Jelang Wisuda, Mahasiswa UT Bandung Dibekali Ilmu Soal Inovasi dan Transformasi Digital

Menjelang pelaksanaan wisuda, Universitas Terbuka (UT) Bandung, menggelar seminar bersama ribuan mahasiswa

Tayang:
TribunJabar.id
SEMINAR - Civitas Akademika UT Bandung saat menggelar seminar di Balai Sartika, Kota Bandung, Rabu (11/2/2026). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNPRIANGAN.COM, BANDUNG - Menjelang pelaksanaan wisuda, Universitas Terbuka (UT) Bandung, menggelar seminar bersama ribuan mahasiswa di Balai Sartika, Jalan Suryalaya, Kota Bandung, Rabu (11/2/2026).

Semenar dengan tema masa depan pendidikan inovasi dan transformasi digital tersebut menghadirkan narasumber Pengamat Kebijakan Pendidikan UPI Bandung, Prof Cecep Dermawan civitas akademik UT.

Direktur UT Bandung, Drs Enceng, M.Si mengatakan, setiap akan melaksanakan wisuda, UT Bandung selalu mengadakan seminar akademik karena ini sudah menjadi kegiatan rutin untuk menumbuhkan sikap akademik dari mahasiswa.

"Ini adalah kegiatan rutin kita  kita termasuk juga ke calon-calon wisudawan. Dengan ini diharapkan bahwa mereka lebih menambah wawasan," ujarnya saat ditemui di Balai Sartika, Rabu (11/2/2026).

Dengan seminar tersebut, kata dia, diharapkan mereka bisa menambah soft skill dan hard skill, sehingga mahasiswa dibekali dengan berbagai hal yang diperlukan karena wisuda ini menjadi titik awal untuk mengabdi.

"Dan kita juga berkepentingan untuk membekali mereka, sehingga mereka itu siap terjun di masyarakat untuk mengabdikan dirinya, mengamalkan ilmu yang diperolehnya di UT seperti itu," kata Enceng.

Dia mengatakan, hal yang paling utama adalah mereka harus terus mengembangkan diri dan terus meng-update dirinya, dan membekali dirinya sebelum benar-benar terjun ke masyarakat dan dunia kerja.

"Nah, pembelajaran mandiri atau belajar mandiri di UT ini akan menumbuh kembangkan kreativitas dan inovasi bagi masyarakat. Dengan bekal itu saya optimis ketika di masyarakat mereka akan terus berkreatif," ucapnya.

Ketua Senat Akademik UT Bandung, Prof. Dr. Chanif Nurcholis, M.Si mengatakan, terkait inovasi dan transformasi digital kampus tersebut sudah melakukan pembelajaran mandiri atau belajar di rumah tetapi ada buku materi pokok (BMP).

"BMP itu di dalamnya ada sembilan modul, itu dikirim ke rumahnya. Ada dua, yang pertama bentuk cetak, yang kedua itu bentuknya digital e-book. Dengan demikian, maka mahasiswa itu tugasnya membaca buku materi pokok itu," kata Chanif.

Dia mengatakan, di dalam BMP tersebut terdapat link pembelajaran yang bisa diakses oleh semua mahasiswa, sedangkan untuk pendampingan dilakukan secara digital atau daring. Meski dengan cara proses pembelajaran dipastikan terap efektif.

"Jadi ada yang namanya tutorial online. Kemudian juga ada lagi namanya Zoom Meeting. Tapi itu fungsinya pendampingan kepada mahasiswa itu ketika dia belajar dan membaca BMP. Itu semua sudah digital, makanya kuliah di UT bisa dikatakan fleksibel," ucapnya.

Pengamat Kebijakan Pendidikan UPI Bandung, Prof Cecep Dermawan, menyoroti pentingnya inovasi dan transformasi digital bagi kampus dan mahasiswa karena saat ini era digitalisasi dan hidup berdampingan dengan handphone.

"Apalagi dalam konteks pendidikan, apalagi untuk dunia pekerjaan. Jadi ini sebuah keniscayaan bagaimana menyiapkan diri bagi calon wisuda dan UT ini menjadi warganegara yang melek digital. Sehingga mereka bisa menyiapkan lebih keunggulan-keunggulan pada masa depan," kata Cecep.

Di sisi lain, Cecep pun memuji UT Bandung yang sudah terlebih dahulu menerapkan digitalisasi dalam proses perkuliahan dengan menerapkan skema pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebelum perguruan tinggi yang lain.

"Sebelum COVID-19, UT sudah digitalisasi. Umumnya itu perguruan tinggi setelah COVID-19 baru booming soal digitalisasi ini. Jadi pembelajaran digitalisasi itu alat, instrument bagaimana mengoptimalisasi pembelajaran dengan lebih baik, lebih terbuka, lebih banyak sumber, dan wawasan," katanya.

Menurutnya, transformasi digital sebuah keniscayaan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama pendidikan dan pekerjaan. Sebab, saat ini sudah terbuka informasi yang melimpah, namun dalam hal ini yang terpenting itu bukan digitalisasinya saja.

Terkait penggunaan Artifical Intelligence (AI) dalam proses pembelajaran, kata Cecep jangan sampai dilarang, asalkan dimanfaatkan untuk hal yang positif dan harus mengedepankan etika dan integritas.

"Misalnya soal etika, integritas, bagaimana pengguna AI-nya, bagaimana cara ngutip dengan baik, sumber aslinya seperti apa, AI hanya alat bantu. Jangan sampai apa yang dihasilkan AI diterima mentah-mentah, itu yang salah. Maka siapkanlah peserta didik, para mahasiswa itu, bagaimana bijak menggunakan AI," ucap Cecep.

 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved