Rabu, 17 Juni 2026

Program Polwan Bhabinkamtibmas Mengajar Jadi Jembatan Kedekatan Polisi dan Anak-anak di Ciamis

Setiap dua minggu sekali di hari Minggu, usai menjalankan tugas patroli mojang dan menjaga keamanan masyarakat

Tayang:
Penulis: Ai Sani Nuraini | Editor: ferri amiril
TribunPriangan.com/Ai Sani Nuraini
MENGAJAR - Setiap dua minggu sekali di hari Minggu, usai menjalankan tugas patroli mojang dan menjaga keamanan masyarakat, dua polisi wanita (Polwan) dan satu polisi dari Polres Ciamis melalui Program Polwan Bhabinkamtibmas Mengajar di Yayasan Sabilul Marhamah, Kelurahan Maleber, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis. 
Ringkasan Berita:* Selama enam bulan terakhir, para Bhabinkamtibmas tersebut rutin menyisihkan waktu di tengah kesibukan tugas kepolisian untuk mengajar anak-anak melalui Program Polwan Bhabinkamtibmas Mengajar di Yayasan Sabilul Marhamah
 
* Kegiatan belajar biasanya dilakukan di gazebo sederhana karena kondisi bangunan yayasan yang masih memiliki banyak keterbatasan

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Setiap dua minggu sekali di hari Minggu, usai menjalankan tugas patroli mojang dan menjaga keamanan masyarakat, dua polisi wanita (Polwan) dan satu polisi dari Polres Ciamis tidak langsung pulang atau beristirahat.

Mereka justru melanjutkan perjalanan menuju sebuah yayasan sederhana di Kelurahan Maleber, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Di tempat itulah seragam cokelat yang biasanya identik dengan penegakan hukum berubah menjadi simbol kasih sayang, pendidikan, dan harapan bagi belasan anak usia dini.

Mereka adalah Brigadir Dini Fuzi Lestary (Bhabinkamtibmas Desa Mekarjadi), Brigadir Meti Dwi Meirisa (Bhabinkamtibmas Desa Pusakanagara), dan Briptu M. Agni (Bhabinkamtibmas Kelurahan Maleber).

Selama enam bulan terakhir, para Bhabinkamtibmas tersebut rutin menyisihkan waktu di tengah kesibukan tugas kepolisian untuk mengajar anak-anak melalui Program Polwan Bhabinkamtibmas Mengajar di Yayasan Sabilul Marhamah.

Baca juga: Aksi Mahasiswa Ciamis Curi Perhatian, Naik Panggung dan Beri Hadiah Lukisan untuk Bupati Herdiat

Program ini bermula dari sebuah gagasan Kapolda Jawa Barat, Irjel Pol. Dr. Rudi Setiawan S.I.K., S.H., M.H yang harus mengedepankan kinerja Polwan salah satunya dengan Patroli Mojang.

Kemudian dari program tersebut lahir inovasi pelayanan kepolisian dari para Bhabinkamtibmas yakni Polwan Bhabinkamtibmas Mengajar, menghadirkan sosok polisi yang lebih dekat dengan masyarakat sejak usia dini.

Namun, dalam menjalankan program tersebut tidak selalu mudah.

Saat pertama kali datang ke lokasi, yang mereka temui bukanlah anak-anak yang antusias menyambut. 

Sebaliknya, banyak anak yang memilih menjauh, bersembunyi di belakang orang tuanya, bahkan menangis ketika melihat seragam polisi.

"Awalnya banyak yang takut. Mungkin karena sering ditakut-takuti, kalau nakal nanti ditangkap polisi atau dimasukkan ke penjara. Jadi ketika kami datang, mereka langsung menjauh," ujar Brigadir Dini Fuzi Lestary kepada Tribun saat ditemui di Polsek Ciamis, Rabu (17/6/2026).

Alih-alih menyerah, para Polwan memilih pendekatan yang berbeda.

Mereka tidak datang membawa kesan formal layaknya guru di ruang kelas. Mereka mengajak anak-anak bermain, bercerita, menggambar, mewarnai, hingga mengenalkan huruf dan angka dengan cara yang menyenangkan.

Perlahan namun pasti, tembok ketakutan yang dirasakan anak-anak itu mulai runtuh.

Anak-anak yang semula enggan mendekat kini justru menjadi pihak yang paling tidak sabar menunggu kedatangan mereka.

"Kadang kami masih patroli, tapi anak-anak sudah datang duluan ke lokasi. Mereka bertanya, 'Ibu Polwannya mana?' Bahkan ada yang pulang dulu lalu datang lagi karena tidak sabar menunggu kami," tutur Dini sambil tersenyum.

Bagi mereka, program ini ternyata bukan hanya tentang mengajar anak-anak.

Mereka mengaku justru banyak belajar tentang kesabaran, komunikasi, dan cara memahami dunia anak-anak.

"Kalau mengajari anak sendiri mungkin berbeda. Tapi ketika mengajar anak-anak lain, kami harus benar-benar belajar bagaimana bersikap lembut, sabar, dan membuat mereka nyaman. Ternyata menjadi guru itu tidak mudah," katanya.

Kegiatan belajar biasanya dilakukan di gazebo sederhana karena kondisi bangunan yayasan yang masih memiliki banyak keterbatasan.

Sejumlah bagian atap bangunan tampak mengalami kerusakan dan bocor saat hujan turun. 

Beberapa kusen juga terlihat lapuk dimakan usia, sementara ruang belajar yang tersedia sangat sederhana dibandingkan fasilitas pendidikan pada umumnya.

Gazebo sederhana di salah satu sudut yayasan itu menjadi saksi kegiatan belajar setiap akhir pekan. 

Namun di tengah keterbatasan tersebut, tawa dan semangat belajar anak-anak tetap terdengar riang.

Keterbatasan itu juga tidak pernah mengurangi semangat belajar anak-anak maupun para Polwan.

Menariknya, sebagian besar perlengkapan belajar pada awal program berasal dari uang pribadi para Polwan.

Mereka patungan membeli buku gambar, alat mewarnai, pensil, penghapus, dan berbagai kebutuhan belajar lainnya agar anak-anak memiliki fasilitas yang memadai selama mengikuti kegiatan.


"Awalnya kami membeli sendiri perlengkapan belajar. Yang penting anak-anak bisa belajar dengan nyaman dan senang," ungkap Dini.

Seiring berjalannya waktu, dukungan mulai berdatangan dari berbagai pihak. Bantuan alat tulis, juz amma, meja belajar, hingga perlengkapan edukasi lainnya membuat kegiatan semakin berkembang.

Jumlah peserta yang semula hanya beberapa anak pun terus bertambah.

Jika di awal kegiatan hanya diikuti dua atau tiga anak, kini jumlah peserta mencapai 14 anak usia tiga hingga lima tahun yang rutin hadir setiap pertemuan.

Perubahan itu juga dirasakan langsung oleh pihak yayasan dan para orang tua.

Ketua Yayasan Sabilul Marhamah, Rukaesih, mengaku terharu melihat perubahan sikap anak-anak terhadap polisi.

Menurutnya, selama ini banyak anak yang menganggap polisi sebagai sosok yang menakutkan. 

Namun setelah rutin bertemu dan belajar bersama, pandangan tersebut berubah total.

"Anak-anak sekarang tahu bahwa Ibu Polisi itu baik, ramah, dan sayang kepada mereka. Kedekatan itu yang paling terasa manfaatnya," ujarnya.

Hal senada disampaikan Tina Fatuhatunnida, salah satu orang tua siswa.

Ia mengaku bersyukur karena anak-anak mendapatkan perhatian dan pendidikan tambahan dari para Polwan yang dengan sukarela meluangkan waktunya.


"Kami mengucapkan terima kasih kepada Polres Ciamis, khususnya Ibu-ibu Polwan yang sudah mengajar anak-anak kami. Semoga segala kebaikannya menjadi amal dan Polri semakin maju," katanya.

Sebagai penutup program semester ini, mereka memberikan sertifikat kepada seluruh peserta serta piala penghargaan bagi anak-anak yang aktif dan berprestasi.

Bagi sebagian orang, sertifikat itu mungkin hanya selembar kertas.

Namun bagi anak-anak tersebut, itu adalah bukti bahwa mereka pernah belajar bersama sosok-sosok yang selama ini mereka kenal sebagai penjaga keamanan, tetapi kini mereka panggil dengan sebutan yang lebih akrab yaitu Bu Polwan.

Di balik tugas menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat, para Bhabinkamtibmas itu telah menunjukkan wajah lain dari institusi kepolisian.

Bukan hanya hadir saat masyarakat membutuhkan perlindungan, tetapi juga hadir untuk menanamkan keberanian, mimpi, dan harapan kepada generasi masa depan.


Dan dari sebuah gazebo sederhana di sudut Maleber, lahirlah kisah tentang kedekatan yang mampu mengubah rasa takut menjadi rasa sayang.

Kehadiran Polwan atau Bhabinkamtibmas dalam program ini tidak hanya sebatas mengajarkan membaca, menulis, atau mengenalkan huruf dan angka kepada anak-anak. 

Lebih dari itu, mereka menjalankan fungsi kepolisian yang humanis dengan membangun kedekatan emosional antara Polri dan masyarakat sejak usia dini.

Sebagai anggota Polri, Polwan memiliki peran strategis dalam kegiatan pembinaan masyarakat, khususnya kepada kelompok rentan seperti perempuan dan anak

Melalui pendekatan yang lebih persuasif dan keibuan, Polwan mampu menjadi jembatan yang mendekatkan institusi kepolisian dengan masyarakat.

Program Polwan Bhabinkamtibmas Mengajar menjadi salah satu bentuk nyata pelaksanaan tugas tersebut. 

Di sela tanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, para Polwan hadir sebagai pendidik, sahabat, sekaligus teladan bagi anak-anak. 

Mereka tidak hanya mengenalkan pentingnya disiplin dan sopan santun, tetapi juga menanamkan pemahaman bahwa polisi adalah sosok yang melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat.

Pendekatan ini dinilai penting karena masih banyak anak yang tumbuh dengan anggapan bahwa polisi adalah sosok yang menakutkan. 

Melalui interaksi yang hangat dan menyenangkan, stigma tersebut perlahan berubah menjadi rasa percaya dan kedekatan.

Bagi para Polwan, keberhasilan program ini bukan hanya terlihat dari bertambahnya kemampuan anak-anak dalam belajar, tetapi juga dari perubahan sikap mereka yang kini tidak lagi takut melihat seragam polisi

Sebaliknya, anak-anak mulai mengenal polisi sebagai sahabat yang hadir untuk membantu dan memberikan rasa aman.(*)

 

Sumber: Tribun Priangan
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
France
Prancis
3 - 1
Senegal
Senegal
Grup I - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 05:00 WIB
Iraq
Irak
1 - 4
Norway
Norwegia
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 08:00 WIB
Argentina
Argentina
3 - 0
Algeria
Aljazair
Grup J - Matchday 1
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:00 WIB
Austria
Austria
3 - 1
Jordan
Yordania
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved