Galendo Ciamis, Makanan Tradisional Warisan Leluhur yang Tembus Pasar Dunia
Galendo yang merupakan makanan khas Ciamis dibuat melalui proses panjang yang masih dipertahankan secara tradisional
Penulis: Ai Sani Nuraini | Editor: Dedy Herdiana
Ringkasan Berita:
- Galendo Putra Bungsu di Ciamis diproduksi tradisional dari santan kelapa
- Proses panjang dan teknik aduk jadi kunci rasa dan tekstur
- Produksi tembus 80 kg/hari, dipasarkan hingga luar negeri
Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS - Sejak pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB aroma kelapa segar mulai memenuhi dapur produksi Galendo Putra Bungsu di Dusun Desa, RT 05/08, Desa Saguling, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis, Rabu (7/1/2026).
Di balik kepulan uap santan yang dimasak perlahan, Alpin Ramadani (27) sibuk mengaduk wajan besar agar cairan putih itu tak berubah menjadi gosong.
Sementara satu pegawai lainnya, melakukan pemerasan santan kelapa menggunakan mesin dan satu orang lagi mengatur tungku api dan sesekali melakukan pengepresan bahan baku galendo yang mengeluarkan minyak kelapa (minyak kelntik).
Dalam tungku berbentuk vertikal memanjang itu terdapat tiga wajan besar berisi santan kelapa yang siap untuk diolah menjadi galendo.
Di tempat inilah galendo yang merupakan makanan khas Ciamis dibuat melalui proses panjang yang masih dipertahankan secara tradisional, persis seperti puluhan tahun silam.
“Prosesnya dimulai dari mobok kelapa, nyongkel, diparut, lalu diperas santannya, hingga santan itu dimasak," tutur Alpin Ramadani (27) sang empunya usaha turun temurun ini.
Baca juga: Gaji ASN Ciamis Januari 2026 Sudah Cair, Sempat Mundur karena Masalah DAU
Santan segar itu kemudian dimasak selama berjam-jam, tanpa henti diaduk hingga mengental.
Menurut Alpin, fase pengadukan menjadi kunci utama kualitas galendo.
“Kalau sudah kental, harus terus diaduk. Kalau lengah sedikit saja, bisa gosong dan muncul rasa pahit nanti di galendonya," ujarnya.
Dari santan dingin hingga menjadi galendo matang, proses memasak memakan waktu sekitar dua jam lebih.
Namun bila dihitung sejak kelapa pertama diolah, seluruh proses produksi berlangsung sejak pukul 06.00 pagi hingga sekitar pukul 10.00–11.00 WIB.
Setelah santan berubah menjadi adonan galendo, proses belum berhenti.
Tahap berikutnya adalah pengepresan untuk mengeluarkan minyak kelapa.
Berbeda dengan banyak produsen yang kini menggunakan alat berbahan stainless, Galendo Putra Bungsu masih setia menggunakan anyaman bambu atau bilik sebagai alat penyimpanan galendo sebelum dipress.
“Ini memang cara turun-temurun. Dari orang tua mertua, sampai sekarang masih kami pertahankan,” kata Alpin.
Minyak yang keluar dari proses pengepresan inilah yang menentukan karakter galendo.
Bila dipres kuat, galendo menjadi lebih padat. Jika dipres lebih ringan, teksturnya lebih remah dan gurih.
Dari proses tersebut, Galendo Putra Bungsu menghasilkan dua jenis produk, yakni galendo padat dan galendo serbuk.
Untuk rasa galendo sendiri yaitu khas kelapa yang legit, bisa dinikmati langsung, ditabur di nasi hangat, atau bisa juga digabung dengan berbagai varian rasa seperti cokelat, susu, atau buah-buahan.
Dengan dua varian yang diproduksi oleh Alpin, biasanya pelanggan yang membeli punya seleranya masing-masing.
“Kalau pembeli yang datang langsung ke rumah, biasanya pilih yang padat. Tapi kalau di penjualan online, justru yang serbuk paling laku karena kata mereka rasanya bisa lebih gurih,” ungkap Alpin.
Produksi galendo dilakukan setiap hari dengan jumlah yang tidak sedikit.
Dalam kondisi normal, galendo yang terjual berkisar 25 hingga 30 kilogram per hari.
Namun saat momen libur panjang seperti Natal dan Tahun Baru, penjualan bisa melonjak drastis bahkan sampai 80 kilogram habis dalam sehari.
Soal kemasan, Alpin tak membatasi ukuran tertentu. Semua disesuaikan dengan permintaan pembeli.
“Ada yang minta satu kilo dibagi empat, dibagi dua, bahkan bisa jadi dikemas sepuluh kemasan. Kita fleksibel,” ujarnya.
Harga galendo eceran saat ini dijual Rp80 ribu per kilogram.
Untuk reseller atau pelaku usaha yang akan menjualnya kembali, harga bisa lebih rendah, berkisar Rp70 ribu hingga Rp75 ribu per kilogram.
Usaha galendo ini bukanlah bisnis baru, Alpin hanya melanjutkan jejak mertuanya yang telah memproduksi galendo selama lebih dari 35 tahun.
“Kalau saya baru satu tahun jalan, tapi mertua sudah lama. Ini warisan dari orang tuanya juga,” tuturnya.
Disamping itu, galendo tak hanya bisa menghasilkan cuan saja, namun juga dijadikan sebagai upaya melestarikan makanan khas dari Tatar Galuh Ciamis.
Pada tahun 2024, Galendo Ciamis ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia setelah mengikuti pameran bersama Disbudpora Ciamis di Jakarta.
Meski diproduksi secara tradisional, jangkauan pemasaran galendo ini menembus batas geografis.
Selain melayani pembeli yang datang langsung ke rumah, Alpin juga memasarkan produknya secara daring.
“Pengiriman online ke seluruh Indonesia. Paling jauh ke Papua. Bahkan pernah kirim dua kilo ke Mekkah, Arab Saudi," katanya.
Ongkos kirim ke luar negeri memang jauh lebih mahal dibanding harga galendo itu sendiri.
Namun bagi para perantau, rasa galendo menjadi pengobat rindu akan kampung halaman.
Bagi Alpin, galendo bukan sekadar makanan. Ia adalah identitas, warisan, sekaligus pengingat rasa masa lalu.
“Sekarang yang suka galendo rata-rata usia di atas 30 tahun. Padahal ini makanan khas Ciamis. Anak muda juga harus tahu dan bangga,” ajaknya.
Lewat galendo, Alpin berharap generasi muda tak hanya menikmati rasa gurih kelapa, tetapi juga memahami nilai tradisi yang diwariskan dari anyaman bambu dan kearifan lokal.
Selain galendo, Alpin juga menjual minyak kelapa yang banyak sekali khasiatnya seperti melembapkan kulit dan rambut, mengatasi jerawat, serta memiliki sifat antimikroba yang melawan bakteri dan jamur.
Selain itu, baik untuk kesehatan jantung dengan meningkatkan HDL, membantu penurunan berat badan karena MCT mempercepat metabolisme dan rasa kenyang, serta mendukung fungsi otak dan pencernaan.
Untuk minyak kelapa ini, Alpin menjualnya dengan harga Rp50 ribu per liternya, namun untuk kemasannya bisa disesuaikan juga dengan keinginan pelanggan.
Lebih lanjut, Alpin menjelaskan soal nama brand Galendo Putra Bungsu yang berasal saat ia dan istrinya membeli mobil bertuliskan Putra Bungsu untuk kegiatan operasional usaha, dari sanalah ide itu muncul dan kini menjadi merk dagang untuk galendo dan minyak kelapa yang diproduksi mereka.(*)
| Priangan Full Hajat Juni 2026: Ini Daftar 8 Event Meriah di Pangandaran, Garut, Ciamis, dan Sumedang |
|
|---|
| Kisah Aris dan Algi di Job Fair Ciamis 2026, Memburu Mimpi di Tengah Keterbatasan Pendengaran |
|
|---|
| 2 Ribu Lebih Warga Ciamis Padati Job Fair di Gedung Kh Irfan Hielmy |
|
|---|
| Harga Cabai Rawit hingga Tomat Turun di Pasar Manis Ciamis, Bawang Merah Justru Naik |
|
|---|
| Minyakita Masih Langka di Pasar Manis Ciamis, Pedagang Sudah Berbulan-bulan Tak Dapat Pasokan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/priangan/foto/bank/originals/galendo-ciamis-pembuatan-07012026-1.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.