Naskah Khutbah Jumat
Khutbah Jumat 20 Juni 2025: Perbaiki Interaksimu dengan Surat Cinta Allah, Jika Ingin Hidup Ringan
Berikut ini Naskah Khutbah Jumat 20 Juni 2025/ 24 Zulhijah 1446 H: Perbaiki Interaksimu dengan Surat Cinta Allah, Jika Ingin Hidup Ringan
Penulis: Lulu Aulia Lisaholith | Editor: ferri amiril
TRIBUNPRIANGAN.COM - Berikut ini Naskah Khutbah Jumat 20 Juni 2025/ 24 Zulhijah 1446 H: Perbaiki Interaksimu dengan Surat Cinta Allah, Jika Ingin Hidup Ringan.
Salah satu rukun pada hari Jumat adalah penyamapaian Khutbah oleh sang khatib.
Islam menganjurkan supaya khutbah tidak disampaikan terlalu panjang agar jemaah tidak bosan.
Sekadar informasi, ajuran untuk menyampaikan khutbah secara singkat terdapat di dalam sebuah hadits riwayat Muslim dan Ahmad berikut ini.
عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ قَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ طُولَ صَلاَةِ الرَّجُلِ وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ فَأَطِيلُوا الصَّلاَةَ وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ وَإِنَّ مِنْ الْبَيَانِ سِحْرًا (رواه مسلم وأحمد)
Artinya: "Dari Ammar Ibn Yasir (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesunggunguhnya panjangnya sholat dan pendeknya khutbah seorang khatib adalah tanda kepahaman seseorang tentang agama. Oleh karena itu panjangkanlah sholat dan persingkatlah khutbah; sesungguhnya dalam penjelasan singkat ada daya tarik." (HR Muslim dan Ahmad)
Ada berbagai jenis topik khutbah Jumat, namun kali ini TribunPriangan.com ingin mengulas tentang Perbaiki Interaksimu dengan Surat Cinta Allah, Jika Ingin Hidup Ringan.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 20 Juni 2025/24 Zulhijah 1446 H: Ibadah Penembus Pintu Rahmat Allah
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ يَحْشُرُنَا فِي الْمَحْشَرِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْجَبَّارُ وَأَشْهَدُ اَنَّ حَبِيْبَنَا وَ نَبِيَّنّا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْاِنْسِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ اَمَّا بَعْدُ فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Ma'asyiral muslim rahimakumuLlah,...
Segala puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia dan rahmat-Nya yang senantiasa dilimpahkan kepada kita semua. Salawat dan salam kita haturkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, sumber keteladanan dan manusia paling mulia di muka bumi ini.
Jamaah, kaum Muslimin yang dimuliakan Allah,
Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah kita bersama-sama merenungkan dan berusaha menjauhi sifat yang sangat tercela, yaitu sifat munafik. Sifat ini adalah salah satu yang sangat dilarang dalam Islam. Mengenai sifat ini, Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah ayat 8-10:
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُۥ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَيُشْهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِى قَلْبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلْخِصَامِ
Artinya: "Dan di antara manusia ada orang-orang yang mengatakan: 'Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir', padahal mereka sesungguhnya tidak beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri, dan mereka tidak sadar." Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah SWT, dalam ayat ini Allah ta’ala membahas tentang orang-orang Mukmin sejati, kemudian orang-orang kafir sejati, dan akhirnya menyentuh kelompok ketiga yang berbeda dari kedua kelompok sebelumnya.
Kelompok ini, meskipun secara lahiriah tampak seperti orang beriman, namun secara batiniah mereka menyamai orang kafir. Mereka adalah orang-orang munafik, yang termasuk penghuni neraka paling bawah.
Kaum muslimin jama'ah shalat Jum'at hafidzakumullah. Dalam Al-Quran Surat Fussilat ayat 41 dan 42, Allah subhanahu wata'ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاۤءَهُمْ ۗوَاِنَّهٗ لَكِتٰبٌ عَزِيْزٌ ۙ (41) لَّا يَأْتِيْهِ الْبَاطِلُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهٖ ۗتَنْزِيْلٌ مِّنْ حَكِيْمٍ حَمِيْدٍ (42)
Artinya : "Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Quran ketika (Al-Quran) itu disampaikan kepada mereka, (pasti mereka akan celaka). Sesungguhnya (Al-Quran) itu adalah kitab yang mulia. Tidak ada kebatilan yang mendatanginya, baik dari depan maupun dari belakang) (Al-Quran itu adalah) kitab yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji."
Begitu agungnya Al-Quran sampai-sampai segala sesuatu yang berhubungan dengan Al-Quran ikut menjadi agung dan mulia.
a. Ketika Al-Quran diturunkan melalui perantara Jibril, maka Jibril pun menjadi "Sayyidul Malaikah" penghulu para malaikat dan diberi gelar "Arruhul Amin".
b. Ketika Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, maka beliaupun dinobatkan menjadi "Sayyidul Anbiyai wal Mursalin" nabi dan rasul terbaik.
c. Ketika Al-Quran diturunkan kepada ummat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, maka mereka menjadi "Khoirul Umam" ummat terbaik.
d. Ketika Al-Quran pertama kali diturunkan pada malam "Lailatul Qadar", maka malam tersebut menjadi "Khoirul Layali" bahkan disebutkan dalam Al-Quran "Khoirun Min Alfi Syahrin" satu malam yang lebih mulia dari seribu bulan.
e. Dan bulan Ramadhan, ketika Al-Quran diturunkan pada bulan ini maka bulan ini menjadi "Sayyidus Syuhur" bulan terbaik dari seluruh bulan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
خَيُركُم مَن تَعلٌمَ القُرانَ وَعَلٌمَهَ
Artinya : "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya". (HR. Bukhori).
Maka demi Allah yang tidak ada Tuhan selain dia, bahwasanya hati manusia yang tersentuh dengan Al-Quran akan menjadi "Khoirun Naas" sebaik-baik manusia.
Al-Quran yang ada pada kita, yang kita baca, yang kita hafal, yang kita pelajari, sama persis dengan Al-Quran yang ada pada masa nabi. Dengan Al-Quran nabi mendidik sahabatnya generasi awal Islam, sehingga Al-Quran merubah kehidupan para sahabat secara signifikan, padahal mereka bukan orang yang berpendidikan dan bukan bangsa yang memiliki peradaban seperti bangsa Persia, Romawi atau Bizantium.
Lihat saja bagaimana Umar bin Khattab (Al-faruq), dimana 16 pendapatnya menjadi penyebab turunnya ayat Al-Quran yang menguatkan pandangan dan pendapat beliau. Sebelum mengucapkan syahadat dikenal sebagai orang yang keras, kasar dan sangat benci Islam. Namun hati Umar lunak dan luluh begitu mendengar adiknya Fatimah membaca Al-Quran dan setelah itu beliau menjadi benteng terdepan membela Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Kemudian ada Abu Dzar Al-Gifari pembegal, perampok, ayahnya pimpinan perampok dari kampung Gifar, hidupnya terbiasa dengan kekerasan dan kejahatan. Setelah tersentuh hatinya oleh Al-Quran, berubah menjadi seorang yang zuhud, tawadu', menentang semua orang yang cenderung menumpuk harta untuk kepentingan pribadi, meskipun itu sahabatnya sendiri.
Al-Quran datang merubah perilaku, cara berfikir, tutur kata, sopan santun dan itulah sesungguhnya hakikat mukjizat Al-Quran yang paling utama yaitu mampu merubah hidup seseorang.
قَالَ رسول الله ص م: إنَّ اللَّهَ يَرفَعُ بِحذَ الكتَاِبِ اَقَوامًا وَيَضَعُ بِه آخَرِينَ
Artinya : "Sesungguhnya Allah mengangkat derajat dan memuliakan beberapa kaum dengan Al-Quran ini, dan Allah merendahkan beberapa kaum dengan kitab ini pula" (HR. Muslim).
Kaum muslimin jama'ah shalat Jum'at hafidzakumullah. Kalau Al-Quran belum bisa merubah kehidupan kita, itu berarti cara kita berintraksi dengan Al-Quran yang bermasalah, perlakuan kita pada Al-Quran hanya sebatas formalitas.
Banyak diantara kita mengklaim dalam sehari mengkhatamkan AlQur'an satu sampai tiga kali, namun ayat mana yang dipahami, kemudian diamalkan kandungannya? Paling kita hanya bisa berlomba-lomba menghitung pahala dari membacanya.
Al-Quran memang beda dari kitab suci yang lain, bila dibaca meskipun tidak dipahami tetap mendatangkan pahala, cuma manfatnya menjadi sangat sedikit dibandingkan bila dipahami maknanya: "Siapa yang membaca satu huruf, baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan jadi sepuluh".
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
Abu Sofyan, Abu Jahal dan Walid Ibnul Mughirah tokoh kafir quraisy, sengaja datang setiap malam ke rumah nabi sembunyi-sembunyi sekedar ingin mendengarkan Al-Quran dan mereka sangat tersentuh bahkan mengeluarkan air mata, Walid Ibnul Mughirah sampai berkata:
وَاللهِ لَقَدْ سَمِعْتُ مِنْ مُحَمّدٍ آنِفًا كَلاَمًا مَا هُوَ مِنْ كَلاَمِ الأِنْسِ، وَلَامِنْ كَلَامِ الجِنِّ، إِنَّ لَهُ لَحَلَاوَة وَإنَّ عَلَيْهِ لَطَلاوَة
Artinya : "Demi Allah, baru saja saya mendengar dari Muhammad, sebuah ucapan yang bukan bahasa manusia, bukan pula bahasa jin. Sungguh sangat indah, penuh makna, menakjubkan dan nikmat untuk didengar" .
Baca juga: Teks Khutbah Jumat 20 Juni 2025: Kebinasaan dari Kebiasaan Buruk Lalai dan Merugi atas Kehidupan
Kenapa kafir Quraisy tersentuh dengan Al-Quran, sementara sebagian besar ummat Islam saat ini sama sekali tidak tersentuh sedikitpun dengan Al-Quran. Penyebabnya adalah: "Kita membacanya tanpa kita pahami maknanya dan kita tidak tau apa yang diingankan Al-Quran dari kita".
Kebanyakan kita dalam mempelajari Al-Quran tidak menitikberatkan pada nilai moral atau ruh dari Al-Quran, tapi hanya terbatas pada teks-teksnya saja. Artinya, kita ini baru mampu menangkap makna Al-Quran sebatas pada kesakralan dan ritual semata. Padahal setiap kita membaca, menghafal, mempelajari, mentadabburi lalu mengamalkannya sesuai kesanggupan, maka Al-Quran menembus ke relung hati, membersihkan kotoran, menyingkap segala kegelapan.
قَالَ سَيِّدُنَا عُثْمَان ابْنُ عَفَّان : لَوْ طَهُرَتْ قُلُوبُكُمْ مَاشَبِعْتُمْ مِنْ كَلاَمِ رَبِّكُمْ
Jika hatimu suci dan bersih, niscaya kamu tidak akan pernah kenyang dengan ayat-ayat Tuhanmu. Artinya kita tidak pernah merasa bosan bersama Al-Quran. Mukjizat Al-Quran lebih dahsyat dari kesanggupan Nabi Isa alaihis salam menghidupkan orang mati. Mukjizat Al-Quran lebih hebat dari tongkat Nabi Musa alaihis salam yang bisa menjelma menjadi ular dan dapat membelah lautan.
Al-Quran mampu mengeluarkan ummat yang tidak berperadaban, jahiliyah, saling bunuh hanya karena hal-hal yang sangat sepele, ratusan tahun hidup seperti itu, lalu mereka dijadikan oleh Al-Quran "Khaira Ummat" sebaik-baik ummat.
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ
Kaum muslimin jama'ah shalat Jum'at hafidzakumullah. Tidak ada yang bisa pungkiri keutamaan membaca AlQur'an, keutamaan menghafal Al-Quran, namun apakah tujuannya hanya berhenti pada membaca dan menghafal saja atau tujuan sesungguhnya adalah supaya kita memahami maknanya dan mengamalkannya?
a. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak ingin kita baca dan hafal Al-Quran seperti rekaman kaset, MP3.
b. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak ingin kita baca dan hafal Al-Quran seperti burung beo yang pandai meniru kalimat yang diulang-ulang saat memberinya makan.
Para sahabat, tabi'in dan tabi' tabi'in saat membaca dan mempelajari Al-Quran, tidak akan pindah ke ayat dan surat berikutnya, sebelum mereka paham dan mengamalkan kandungan isi kandungannya. Sayyidina Utsman bin Affan dan Abdullah ibnu Mas'ud berkata:
كُنَّا إذَا تَعَلَّمْنَا مِنَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ آيَاتٍ، لَمْ نُجَاوِزِهَا حَتَّى نَتَعَلَّمَ مَا فِيْحَا مِنَ العِلْمِ وَالعَمَلِ
Jika kami mempelajari sepuluh ayat dari nabi, maka kami tidak akan pindah ke ayat berikutnya, sebelum kami paham makna yang terkandung dalam sepuluh ayat tersebut kemudian mengamalkannya.
Jadi ayat itu mereka baca, mereka pahami maknanya, mereka tadabburi, mereka amalkan lalu mereka hafal baru kemudian mereka beralih membaca ayat lainnya. Metode mereka dalam berintraksi dengan Al-Quran adalah: iqra (baca), ifham (pahami), tadabbar (tadabburi), tabbaq (amalkan), ihfadz (jaga dan hafal). Sementara metode kita sekarang adalah: ihfadz, ihfadz dan ihfadz (hafal, hafal dan hafal)
Problem kita dalam bermuamalah dan berintraksi dengan Al-Quran bukan di bacaannya, bukan pula di hafalannya, membaca dan menghafal Al-Quran adalah amalan yang sangat-sangat terpuji, sangat mulia, merupakan cahaya di atas cahaya. Syariat Islam bahkan sangat menganjurkan kita untuk mendukung dan memberi semangat para pembaca dan penghafal Al-Quran agar kemutawatiran Al-Quran tetap terjaga dengan baik, sehingga Al-Quran bisa diwariskan secara turun temurun sampai hari kiamat.
Saat ini ada eforia di kalangan ummat Islam untuk kembali kepada Al-Quran, di satu sisi kita bahagia jika ummat Islam memiliki perhatian yang sangat besar pada Al-Quran, tapi disisi lain yang harus diingat dan diperhatikan adalah bahwa Al-Quran diturunkan bukan sekedar untuk dibaca dan dihafal, yang lebih penting dari itu semua bahwa Al-Quran adalah "Hudan Linnas" isinya harus dibaca, dihafal, dipelajari, dipahami, kemudian diamalkan dalam kehidupan ini.
وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى ٱلصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
Al-Quran adalah penyembuh penyakit yang ada di dalam dada sebagai hidayah, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman.
Kaum muslimin jama'ah shalat Jum'at hafidzakumullah.
Berbicara tentang Al-Quran sesungguhnya membicarakan sesuatu yang tidak pernah ada habisnya. Dari sisi manapun kita memulai pembicaraan maka kita akan temukan dan rasakan, ia bagaikan samudera luas yang dalam dan tidak bertepi. Akan selalu ada hal-hal baru yang kita dapatkan dari hasil tadabbur dan pembacaan kita terhadap Al-Quran.
Seorang ulama yang bernama DR. Muhammad Abdullah Darraz dalam kitab "An-Nabaul Adzhim" mengatakan: Ayat-ayat Al-Quran itu bagaikan intan, setiap sudutnya memancarkan cahaya yang berbeda dengan apa yang terpancar dari sudutsudut lain. Dan tidak mustahil jika kita mempersilahkan orang lain memandangnya, maka ia akan melihat lebih banyak ketimbang apa yang kita lihat.
Jika ada kalimat yang bisa dijadikan kesimpulan dalam khutbah singkat ini, khatib ingin mengatakan bahwa:
1. Al-Quran disamping harus dibaca dan dihafal juga harus dipelajari, dikaji, ditadabburi dan dipahami maknanya, baik makna tekstual maupun kontekstual "Lafdziyyan Wa Maknawiyyan" sehingga kandungannya dapat diaplikasikan dalam kehidupan.
2. Al-Quran adalah wahyu Ilahi yang dijamin kebenarannya "Wahyullahil Ma'shum" sedangkan pemahaman kita terhadap Al-Quran itu adalah produk manusia "Juhdin Basyari" bisa benar dan bisa juga salah.
3. Al-Quran adalah kitab "masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang" pemahamannya lentur, fleksibel dan tidak kaku "Solihun Likulli Zamanin wa Makanin" Al-Quran selalu sesuai dengan segala waktu dan tempat. Kapanpun dan dimanapun Al-Quran tetap dan tetap menjadi sumber kebenaran yang mutlak, yang tidak ada keraguan di dalamnya dan menjadi pedoman hidup ummat manusia.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 20 Juni 2025/24 Zulhijah 1446 H: Ibadah Penembus Pintu Rahmat Allah
Khutbah II
اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كما أَمَرَ.وأَشْهدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِه وكَفَرَ. وأَشْهَدُ أَنَّ سَيّدَنا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ.اللَّهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ على سيِّدِنا على عَبْدِكَ ورَسُولِك محمَّدٍ وآلِه وصَحْبِه مَااتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ. ( أمّا بعدُ ) فيَآايُّهاالنّاسُ اتَّقُوا الله
تعالى وَذَرُوا الْفَواحِشَ ما ظهَرَ مِنْها وما بَطَنَ وحافَظُوا على الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ والجَماعَةِ . وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيه بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلائكةِ قُدْسِهِ. فَقالَ تعالى ولَمْ يَزَلْ قائِلاً عَلِيمًا: إِنَّ اللهَ وَملائكتَهُ يُصَلُّونَ على النَّبِيِّ يَآ أَيّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على سيِّدِنا محمَّدٍ وعلى آلِ سيِدِنَا محمَّدٍ كَما صَلَّيْتَ على سيِّدِنا إِبراهِيمَ وعلى آلِ سيِّدِنَا إِبراهِيمَ في الْعالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاء الرّاشِدِينَ الَّذينَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكانُوا بِهِ يَعْدِلُونَ أَبي بَكْرٍ وعُمرَ و عُثْمانَ وعلِيٍّ وَعَنِ السَتَّةِ الْمُتَمِّمِينَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرامِ وعَنْ سائِرِ أَصْحابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعينَ وَعَنِ التَّابِعِينَ وتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ. اللَّهمَّ لا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي عُنُقِنَا ظَلَامَة ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوالِ يَومِ الْقِيامَةِ. اللَّهمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ والمُسلمينَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ والمُشْركِينَ. ودَمِّرْ أَعْداءَ الدِّينِ. اللَّهمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنا وأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنا. وَاجْعَلِ اللَّهمَّ وِلَايَتَنا فِيمَنْ خافَكَ وَاتَّقَاكَ.
اللَّهمَّ اغْفِرْ لِلمُسلِمينَ والمُسلماتِ والمُؤْمنينَ والمُؤْمِناتِ الْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ والزِّنا والزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوءَ الفِتَنِ ما ظَهَرَ مِنْها وما بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا هَذا خاصَّةً وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسلمينَ عامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ.رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الآخرة حَسَنَةً وقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَكْبَرُ.
(*)
Baca artikel TribunPriangan.com lainnya di Google News
Naskah Khutbah Jumat Juni
Naskah Khutbah Jumat Terbaru
Naskah Khutbah Jumat Hari Ini
Naskah Khutbah Jumat
Teks Khutbah Jumat
Contoh Teks Khutbah Jumat
khutbah Jumat
| Naskah Khutbah Jumat 20 Juni 2025: Cermin Akhlak Mulia, Hindari Banyak Bicara |
|
|---|
| Teks Khutbah Jumat 13 Juni 2025/17 Zulhijah 1446 H: Perbaiki Niat Menjadi Pribadi yang Bertaqwa |
|
|---|
| Naskah Khutbah Jumat 13 Juni 2025/ 17 Zulhijah 1446 H: Pentingnya Menjaga Sikap Tenang dalam Hidup |
|
|---|
| Naskah Singkat Khutbah Jumat 13 Juni 2025: Menjaga Keikhlasan Dalam Beribadah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/priangan/foto/bank/originals/Ilustrasi-Ayat-Al-Quran.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.