Senin, 18 Mei 2026

Perguruan Tinggi Dinilai Miliki Peran Penting pada Program Hilirisasi untuk Ketahanan Nasional

Alasan Indonesia harus melakukan hilirisasi adalah karena pertama, akan melahirkan nilai tambah. 

Tayang:
Istimewa
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI saat memberikan orasi ilmiah pada kegiatan wisuda sarjana, magister, dan doktor Universitas Pasundan gelombang 1 tahun akademik 2024/2025 di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Jalan Tamansari, Kota Bandung, Sabtu (9/11/2024). 

TRIBUNPRIANGAN.COM - Perguruan tinggi berperan penting pada program hilirisasi dalam rangka ketahanan nasional. Hilirisasi sumber daya alam harus memberikan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan oleh Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI saat memberikan orasi ilmiah pada kegiatan wisuda sarjana, magister, dan doktor Universitas Pasundan gelombang 1 tahun akademik 2024/2025 di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Jalan Tamansari, Kota Bandung, Sabtu (9/11/2024).

"Presiden Prabowo dalam pidato di Gedung MPR/DPR pada Minggu 20 Oktober 2024 mengampaikan, kita harus melakukan hilirisasi kepada semua komoditas yang kita miliki. Nilai tambah dari semua komoditas itu harus menambah kekuatan ekonomi kita sehingga rakyat kita bisa mencapai tingkat hidup yang sejahtera. Seluruh komoditas kita harus bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia," kata pria yang juga menjabat Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar dan Ketua DPD Golkar Jawa Barat ini.

Kang Ace, sapaan akrabnya, menyatakan, Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam melimpah.

Baca juga: Profil Gita KDI, Calon Wakil Gubernur Jawa Barat di Pilkada Jabar 2024, Siap Sejahterakan Single Mom

Maka dari itu, kata dia, sudah seharusnya kekayaan Indonesia membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat di Tanah Air.

Namun, Indonesia harus memiliki kemampuan mengolah sumber daya alam tersebut. Untuk itu, bangsa Indonesia harus memiliki kemampuan hilirisasi

"HIlirisasi adalah proses pengolahan transformatif bahan baku atau sumber daya alam menjadi bahan jadi yang bernilai ekonomi lebih tinggi," ujarnya.

Dia mencontohkan, Indonesia memiliki kandungan nikel terbesar di dunia. Apabila hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, nilai ekonominya rendah, yakni berkisar 3 miliar Dolar AS. 

Baca juga: Profil Acep Adang Ruhiat, Calon Gubernur Jawa barat di Pilkada Jabar 2024, Putra Asli Tasikmalaya

Sebaliknya, ketika Indonesia mampu mengolahnya menjadi bahan jadi dengan hilirisasi, maka harganya meningkat menjadi 33 miliar Dolar AS.

"Karena itu, penting sekali peran perguruan tinggi untuk mewujudkan hilirisasi tersebut dengan menjadikannya (perguruan tinggi) sebagai pusat informas, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat," tutur Gubernur Lemhannas RI.

Kang Ace mengatakan, alasan Indonesia harus melakukan hilirisasi adalah karena pertama, akan melahirkan nilai tambah. 

Dengan mengolah bahan mentah menjadi produk jadi, Indonesia bisa meningkatkan nilai jual produk di pasar global, meningkatkan penerimaan negara, dan menciptakan efek pengganda (multiplier effect) di ekonomi nasional.

Baca juga: Profil Ilham Habibie, Calon Wakil Gubernur Jawa Barat di Pilkada 2024, Mewarisi Kecerdasan Sang Ayah

Pada 2017, kata Kang Ace, nilai ekspor nikel mentah Indonesia sebesar 3,3 miliar Dolar AS. Setelah program hilirisasi dilaksanakan pada 2021 lalu, nilai ekspor naik menjadi 20 miliar Dolar AS pada 2023. 

"Itu salah satu contoh dengan hilirisasi akan meningkatkan nilai ekspor bahan jadi," ucapnya.

Kedua, hilirisasi mendorong industrialisasi dan diversifikasi ekonomi. Hilirisasi menciptakan ekosistem industri yang lebih kompleks, mempercepat industrialisasi, dan mengurangi ketergantungan pada sektor primer dengan memperkuat sektor sekunder dan tersier.

Ketiga, menciptakan lapangan kerja dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

"Proses hilirisasi memerlukan tenaga kerja dengan berbagai keterampilan, sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan keterampilan SDM dalam negeri," ujar Gubernur Lemhannas RI.

Dalam orasi ilmiah itu, Gubernur Lemhannas menjelaskan dukungan perguruan tinggi pada program hilirisasi dalam rangka ketahanan nasional, yaitu elalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

"Pendidikan membangun SDM inovatif dengan kurikulum berbasis hilirisasi, yakni, Integrasi materi hilirisasi dalam kurikulum untuk mempersiapkan SDM yang siap industri," ujar Gubernur Lemhanas.

Kemudian, pendidikan di perguruan tinggi mengembangkan soft skills dan hard skills mahasiswa dengan Peningkatan kemampuan riset, manajerial, dan adaptasi teknologi bagi mahasiswa.

Perguruan tinggi harus berkolaborasi dengan industri dengan menyediakan program magang dan kunjungan industri untuk pengalaman langsung mahasiswa terkait hilirisasi.

Kang Ace menyatakan, peran perguruan tinggi berikutnya adalah penelitian, yaitu mendorong inovasi dan produk unggulan. 

Perguruan tinggi melakukan riset terapan untuk hilirisasi

"Fokus pada riset yang menghasilkan produk siap komersial dan mendukung sektor strategis," ujarnya.

Kemudian, tutur dia, pemerintah mendukung pendanaan dan kerja sama dengan sektor industri untuk riset hilirisasi

"Perguruan tinggi menjadi inkubator inovasi untuk memfasilitasi proses hilirisasi hasil riset," pungkas Kang Ace.

Acara wisuda bertema "Peran Alumni Sebagai Wirausahawan Dalam Mendorong Pertumbuhan UMKM dan Ekonomi Global" itu dihadiri oleh Ketua Umum Paguyuban Pasundan Prof Dr H M Didi Turmudzi MSi; Rektor Unpas Prof Dr H Azhar Affandi SE MSc; Wakil Rektor Bidang Belmawabud Unpas Prof Dr Cartono SPd MPd МТ.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan Sumberdaya Keuangan dan Sistem Informasi Unpas Prof Dr Ir Yudi Garnida MP; Wakil Rektor Bidang Riset Inovasi Pengabdian pada masyarakat dan Kerja Sama Prof Dr M Budiana SIP MSi; Kepala LLDIKTI Wilayah IV Dr M Samsuri SPd MT IPU; Ketua YPT Dr H Makbul Mansyur MSi; Sekretaris YPT Dr Cece Suryana SH MM; dan Wakil Sekretaris YPT Dr H Eden K Soewardi MSi.

Hadir pula tamu dari Korea Selatan, antara lain, Moon Chang Yeob PhD (Urban Planning) Hanyang University Korea Selatan; Prof Yoon Jeong Seop PhD (Dimension design, Direction) Seoul National University Korsel; dan Prof Kim Young Soo PhD (Literature, Language) Hankuk University of Foreign Studies. (*)

Sumber: Tribun Priangan
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved