Warga dari 15 Desa di Sumedang Tercatat Masih Berak Sembarangan, Ini Penyebabnya

Warga dari 15 Desa di Sumedang Tercatat Masih Berak Sembarangan, Ini Penyebabnya

Freepik
ilustrasi berak 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com, Kiki Andriana

TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG - Pemerintah Kabupaten Sumedang mencatat sebanyak warga dari 15 Desa di Sumedang masih melakukan berak sembarangan.

Laporan tersebut berdasarkan hasil statistik Pemkab Sumedang melalui open defecation free atau ODF.

15 desa ini merupakan laporan terbaru setelah sebelumnya tercatat sebanyak 277 Desa di Sumedang yang belum menerapkan ODF.

Baca juga: Pernikahan Anak di Sumedang Sepanjang 2022 Tercatat Ratusan, Setahun Sebelumnya Capai Ribuan

"Warga-warga di Desa itu masih BAB (buang air besar) sembarangan. Entah di sungai atau di kakus yang mengalir ke area terbuka seperti selokan," kata Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Sumedang, Nia Sukaeni, kepada Tribun, Jumat (20/1/2023).

Nia mengatakan, ke-15 Desa itu tersebar di sejumlah kecamatan, termasuk di Jatinangor, sebuah kawasan yang dinilai sebagai etalase Kabupaten Sumedang, terlebih dengan Perda Kawasan Perkotaan Jatinangor (KPJ).

Nia memerinci desa-desa itu. Ke-15 desa itu antara lain, Desa Buanamekar dan Jayamekar Kecamatan Cibugel, Desa Cilayung, Desa Cikeruh, Desa Cibeusi, Desa Cipacing, Desa Hegarmanah, Desa Sayang, dan Desa Mekargalih Kecamatam Jatinangor; Kelurahan Kotakulon, Pasanggrahan Baru, Regol Wetan, Desa Baginda, dan Gunasari di Kecamatan Sumedang Selatan, dan Kelurahan Situ di Kecamatan Sumedang Utara.

Baca juga: Dapat Kepercayaan Ketum PPP, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir Siap Tarung Kembali di Pilkada 2024

Menurut Nia, faktor yang menyebabkan warga masih melakukan berak sembarangan adalah kondisi ekonomi. Sebab, katanya, membuat septic tank perlu biaya tak kecil.

"Tapi sudah ada komitmen, nanti yang 15 desa itu semua SKPD di Sumedang berempuk untuk menyelesaikannya agar Sumedang bisa 100 persen ODF," kata Nia.

Baca juga: Wagub Jabar Uu Senang Harlah PPP ke-50 di Sumedang Bukan Hanya untuk Kader, Ini Alasannya

Nina bilang, dampak buruk berak sembarangan adalah menghasilkan lingkungan yang tidak sehat dan akan menimbulkan banyak penyakit.

"Misalnya pada balita, bisa diare, bisa kurang gizi, atau bahkan stunting," katanya. (*)

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved