Kesiapsiagaan Bencana di Sekolah Masih Minim di Tasik
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya, Ucu Anwar Surahman, menilai bahwa banyak sekolah di Kota Tasikmalaya
Penulis: Aldi M Perdana | Editor: ferri amiril
Laporan Jurnalis TribunPriangan.com Tasikmlaya, Aldi M. Perdana
TRIBUNPRIANGAN.COM, KOTA TASIKMALAYA - Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya, Ucu Anwar Surahman, menilai bahwa banyak sekolah di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, tidak memiliki proteksi dan kesiapsiagaan bencana.
Oleh karena itu, pihaknya secara rutin menggelar Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di sekolah-sekolah.
“BPBD Kota Tasikmalaya itu sudah satu langkah di depan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 33 Tahun 2019, yang sejatinya itu menjadi urusan Dinas Pendidikan, kami garap,” ungkapnya kepada TribunPriangan.com pada Kamis (19/1/2023).
Ucu menilai bahwa di sekolah itu harus ada SPAB (Satuan Pendidikan Aman Bencana), sehingga selain rutin menggelar SPAB, pihaknya juga Satuan Tugas (Satgas) Kebencanaan di setiap sekolah.
“Sebab semua sekolah adalah ruang publik, dan di sana ada peserta didik (siswa-siswi), ada guru, ada stakeholder (pemangku kepentingan) lainnya, mereka semua kurang memahami tentang pengetahuan kebencanaannya, maka dari itu kami masuk ke sana,” lengkapnya.
Saat ini, pihaknya telah memiliki dokumen tentang penyelenggaraan tersebut, sedang setiap kali mereka selesai memberikan mitigasi kebencanaan melalui unsur Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), BPBD Kota Tasikmalaya memberikan piagam. Menurut Ucu, itu adalah bentuk informasi bahwa pihaknya telah menyelenggarakan SPAB.
“Salah satunya adalah bagaimana mereka menghadapi bencana alam maupun non-alam. Bencana alam semua bisa diprediksi, kecuali geologi, khususnya gempa bumi,” terangnya.
Bahkan, Ucu juga menyampaikan informasi terkait pelatihan dan ihwal bagaimana mengatasi bencana non-alam, di antaranya adalah kebakaran.
“Apa lagi banyak sekolah yang sangat tidak siap dengan bencana non-alam. Mereka tidak memiliki Alat Pemadam Api Ringan (APAR), mereka tidak memiliki proteksi kebakaran lainnya, apa lagi semua infrastruktur itu tidak memenuhi prasyarat untuk evakuasi, dengan tangga yang terlalu tinggi, tangga terlalu sempit, kita bisa berasumsi macam-macam dengan kondisi seperti itu,” jelas Ucu.
Oleh karena itu, pihaknya hadir untuk memberikan edukasi tentang bagaimana pada saat terjadi kebencanaan, semua elemen di sekolah dilatih untuk evakuasi mandiri.
“Lalu para guru, bahkan para pedagang di depan sekolah, kami jadikan sebagai sebagai guidance (red: pemandu) kebencanaan. Ketika terjadi kepanikan (saat terjadi bencana) pada para peserta didik, maka guru, office boy, penjaga sekolah, termasuk para pedagang, kami jadikan sebagai guidance. Sehingga anak2 tdk panik dan bisa menemukan assembly point (red: titik kumpul) yang tepat di mana,” lengkap Ucu.
Setiap hari, sambungnya, selama satu minggu penuh BPBD Kota Tasikmalaya melakukan SPAB di hampir semua sekolah.
Bahkan dalam pekan ini, tidak ada waktu yang kosong. Mulai dari tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), maupun perguruan tinggi.
“SD dan SMP di Kota Tasikmalaya hampir setengahnya sudah melakukan pelatihan SPAB,” pungkasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/priangan/foto/bank/originals/Ucuanwarbpbdokotatasik.jpg)