Laporan Khusus

Bordir Tasikmalaya, Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang Kini Alami Kenaikan Harga Bahan Baku

Bordir Tasikmalaya, Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang Kini Alami Kenaikan Harga Bahan Baku

Penulis: Aldi M Perdana | Editor: Gelar Aldi Sugiara
TribunPriangan.com/Aldi M Perdana
Mesin bordir para pengrajin bordir di Tasikmalaya 

Laporan Jurnalis TribunPriangan.com, Aldi M Perdana

TRIBUNPRIANGAN.COM, KABUPATEN TASIKMALAYA - Direktorat Perlindungan Kebudayaan Kemdikbud pada Oktober 2021 menetapkan 289 karya budaya dari 28 provinsi di Indonesia melalui Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2021.

Bernomor registrasi 2012002279 pada domain (red: ranah) Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional, satu dari 289 karya buda tersebut adalah Bordir Tasikmalaya, dikutip situs resmi Kementrian Pendidikan dan Kebudayan (Kemdikbud) Indonesia.

Sidang tersebut dipimpin langsung oleh Direktur Pelindungan Kebudayaan, Irini Dewi Wanti dan dihadiri oleh 14 Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda Indonesia secara luring (luar jaringan/offline).

Baca juga: Belasan Remaja di Kota Tasikmalaya Diamankan Polisi saat Reuni Diwarnai Pesta Miras

Diketahui, Kepala Dinas baik dari Provinsi, Kabupaten, atau Kota yang membidangi kebudayaan terkait, atau yang mewakili secara daring (dalam jaringan/online), juga dilibatkan dalam Sidang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2021 tersebut.

Proses Bordir Tasikmalaya menjadi Warisan Budaya Takbenda ini telah melalui proses Seleksi Administrasi oleh Sekretariat Warisan Budaya Takbenda, Rapat Usulan Warisan Budaya Takbenda ke-1 dan ke-2 oleh Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda, Verifikasi usulan Warisan Budaya Takbenda yang dianggap perlu ditinjau langsung, serta pemaparan usulan oleh Dinas Kebudayaan terkait.

Ironisnya, saat ini para pengajin bordir di Kabupaten Tasikmalaya mengalami kebangkrutan akibat kenaikan harga bahan baku bordir.

Baca juga: Ketika Ridwan Kamil dan Ibu Cinta Bergaya ala Titanic di Perahu saat Mengitari Situ Gede Tasikmalaya

“Kalau di anggota Paguyuban Bordir Tasikmalaya sendiri, dari 100-an anggota, itu sudah hampir 50 persen yang gulung tikar,” kata Ketua Paguyuban Pengrajin Bordir Tasikmalaya, Agus Husaeni kepada TribunPriangan.com pada 27 Desember 2022 lalu.

Agus mengatakan, hal tersebut terjadi akibat mahalnya harga bahan baku bordir, terutama benang. Kenaikan harga tersebut diketahui telah terjadi selama satu tahun terakhir.

Di sisi lain, Deden Daris, salah satu pengrajin bordir di Kabupaten Tasikmalaya mengungkapkan, bahwa di desanya sendiri, sebanyak 80 persen pengrajin bordir sudah gulung tikar.

Baca juga: Pengakuan Ibu Muda Ini saat Peresmian Situ Gede Kota Tasikmalaya Bikin Ridwan Kamil Melongo

“Di kampung saya ini (Kampung Sindang) sebelumnya ada 100 unit mesin (red: total dari semua pengrajin bordir di Kampung Sindang). Sekarang tinggal ada 20 unit,” terang Deden pada 3 Januari 2023 lalu.

Menurut Deden Daris, hal tersebut diakibatkan oleh kenaikan harga bahan baku bordir berupa benang dan kain organdi.

Deden juga menjelaskan, saat harga bahan baku benang di angka Rp.2500 per cones (red: per gulung), harga beli bordiran kebaya di pasaran per buahnya itu sekira R35.000.

Baca juga: Wisatawan Wajib Tahu, Ini Petuah Sesepuh saat Berkunjung ke Situ Gede Kota Tasikmalaya

Sedang belakangan ini, harga bahan baku benang telah naik sampai Rp 10.550 dan kain organdi yang sebelumnya Rp 5000, juga telah naik sampai Rp 8.000 per meter.

Halaman
12
Sumber: Tribun Priangan
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved