Awalnya SD Ini Minta Tenda Darurat Gempa, Kegirangan karena Dibangun Sekolah Permanen

Murid sekolah dasar tak lagi belajar di tenda di hari pertama sekolah di SDN Cipetir Desa Ciwalen, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur. 

Editor: ferri amiril
Tribun Priangan.com
Suasana hari pertama sekolah di lokasi gempa Cianjur 

TRIBUNPRIANGAN.COM, CIANJUR - Murid sekolah dasar tak lagi belajar di tenda di hari pertama sekolah di SDN Cipetir Desa Ciwalen, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur

Lokasi sekolah terdampak Gempa Cianjur ini semula mengajukan tenda untuk kegiatan belajar mengajar, namun malah dibuatkan sekolah permanen oleh BNPB yang dikerjakan oleh PT Tata Logam Lestari.

Kepala SDN Cipetir, Dodo Suhendar, mengatakan suasana hari pertama sekolah diisi dengan ungkapan terima kasih kepada para dermawan dari murid-murid.

"Alhamdulilah pembangunan sekolah sudah 100 persen tinggal diresmikan saja," ujar Dodo.

Dodo mengatakan, tak hanya membangun sekolah, Darma wanita BNPB yang dikomandoi oleh Ny Ukeu Suharyanto ini juga memberikan motivasi bagi anak-anak agar tetap melanjutkan kegiatan belajar dengan bantuan alat-alat belajar siswa-siswi di sekolah.

Ia mengatakan jumlah siswa di SDN Cipetir ada 295 siswa.  

General Manager PT Tata Logam Lestari, Krisna Dewanti, mengatakan pihaknya konsen di berbagai bencana di Indonesia dalam membantu menyediakan fasilitas hunian bagi korban terdampak.

"Kami dipertemukan dengan murid di sini melalui BNPB, jadi asalnya itu kepala sekolah minta bantuan tenda ke BNPB yang ukurannya bisa untuk kelas. Namun pada saat itu BNPB kehabisan tenda," kata Krisna.

Setelah percakapan singkat ia menghubungi perusahaannya. Pemilik perusahaan menjawab dengan pertanyaan bagaimana kalau dibuatkan saja sekolah permanen anti gempa.

"Mendapat jawaban seperti itu saya hubungi lagi BNPB dan kepala sekolah, mereka senang bukan main dari minta tenda malah dibuatkan sekolah langsung," katanya.

Pihaknya langsung mendesain gambar bangunan dengan bahan ringan dan mudah untuk dibangun dalam waktu sebulan. Pekerjaan tak mudah karena pertama harus membersihkan sisa puing lalu memasukan bahan-bahan.

"Alhamdulillah kita sama-sama bisa melihat anak-anak udah mulai bisa di sekolah hari ini," katanya.

Selain pabrikan sendiri, bahan yang dibangun menggunakan sistem interlock dari bawah sampai atas.

"Jadi jika terjadi gempa bahan akan bergerak tapi enggak langsung hancur sehingga murid yang di dalam punya waktu untuk keluar menyelamatkan diri," katanya.

Ia mengatakan, 18 tahun bergerak di bidang kemanusiaan membuat pengalaman perusahaan dipercaya terus ada di setiap titik bencana membantu pemulihan.

Variati Johan dari Gerakan Pasti yang turut menginisiasi pembangunan sekolah mengatakan jika semua pihak bergerak maka pemulihan bisa lebih cepat.

"Dari awal kami sudah turun membantu hal kecil, seperti menyediakan sarana toilet untuk pengungsi," katanya.(*)

Sumber: Tribun Priangan
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved