Kisah Ibu Muda Single Parent Tepis Stigma Negatif Soal Profesi 'PL'

Seorang Ibu muda di Pangandaran menceritakan pekerjaannya yang setiap malam harus mencari rezeki dengan pekerjaan menjadi Pemandu Lagu (PL)

Editor: ferri amiril
Kompas.com
Ilustrasi musik.(SHUTTERSTOCK) 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Seorang Ibu muda di Pangandaran menceritakan pekerjaannya yang setiap malam harus mencari rezeki dengan pekerjaan menjadi Pemandu Lagu (PL).

Ibu muda yang biasa disebut Bunga (nama samaran), setiap malam menjadi pemandu lagu di satu tempat karaoke di kawasan objek wisata Pangandaran.

Bunga yang sudah berusia 24 tahun ini, baru beberapa tahun ini dicerai oleh suaminya. Terjun menjadi pemandu lagu, tentu bukan menjadi pilihan hatinya.

Bunga memilih pekerjaan karena adanya tuntutan pekerjaan dan kebutuhan hidup untuk sehari-harinya.

"Dulu, tahun 2019 saya ditinggal cerai oleh suami karena enggak bisa membiayai hidup keluarga. Saya baru dikaruniai anak satu dan sementara tinggal bersama nenek," ujar Bunga beberapa hari yang lalu kepada wartawan.

Baca juga: Wisata Edukasi Aquarium Indonesia Pangandaran Bisa Jadi Pilihan Destinasi Liburan Akhir Tahun

Ia tidak mengeluhkan soal pekerjaannya menjadi Pemandu tapi adanya stigma negatif kerap menghantuinya.

"Kadang-kadang, mereka yang boking PL menganggap semuanya bisa dipakai satu paket," ucapnya.

Menurutnya, menjadi PL tidaklah seenak yang diceritakan teman-teman sewaktu mengajaknya menjadi PL.

"Saya tertarik (menjadi PL), karena apapun yang mereka mau bisa dibeli," kata Bunga.

Meski kunjungan wisatawan di Pangandaran sepi, Ia mengaku lebih diramaikan orderan dari orang-orang lokal.

Baca juga: Ini Rate Harga Menginap di Hotel Menara Laut Pangandaran Hingga Tahun Baru

"Saya tahu tamunya orang lokal, karena dilihat dari bahasa dan logatnya," ujarnya.

Selama menjadi PL, Ia mengaku sudah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk anaknya. "Ya, bagi-bagi saja. Uangnya ada yang untuk kebutuhan saya di sini dan untuk anak saya," ucapnya.

Menurutnya, tidak semua pemandu lagu atau PL menjajakan dirinya sebagai pekerja seks komersial (PSK)."Tapi, kadang-kadang kami dipaksa," kata Bunga.

Bunga berharap, orang atau tamu tidak membandingkan PL dengan PSK secara bersamaan.

"Soalnya, masing-masing dari mereka mempunyai pendirian. Itu pilihan, walaupun sering dipegang-pegang, buka berarti mau dipakai," ujarnya.

Baca juga: Hotel Menara Laut Pangandaran Sediakan Harga Khusus di Libur Natal dan Tahun Baru

Pekerjaan menjadi pemandu lagu yang dilakukannya, karena situasi dan kondisi membuatnya memutar otak. 

"Karena kondisi, Saya harus memutar otak supaya dapat mencukupi kebutuhan khususnya untuk anak," kata Bunga.(*) 

Sumber: Tribun Priangan

Ikuti kami di

AA
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved