Senin, 13 April 2026

Mantan Pengikut Organisasi Terlarang di Garut Kembali Berkumpul

Eks pengikut Negara Islam Indonesia (NII) dan eks Darul Islam (DI) di Garut melakukan pertemuan di aula kantor MUI Garut, Sabtu (5/11/2022).

Editor: ferri amiril
tribunpriangan.com/sidqi al ghifari
Eks pengikut Negara Islam Indonesia dan Darul Islam mendapat pembinaan berkala soal ideologi dan pemberdayaan ekonomi di Aula Kantor MUI Garut, Sabtu (5/11/2022). 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com Garut, Sidqi Al Ghifari

TRIBUNPRIANGAN.COM, GARUT - Eks pengikut Negara Islam Indonesia (NII) dan eks Darul Islam (DI) di Garut melakukan pertemuan di aula kantor MUI Garut, Sabtu (5/11/2022).

Pertemuan para mantan pengikut organisasi terlarang itu untuk mendapat pembinaan berkala dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Garut.

"Pertemuan ini untuk pembinaan terhadap para eks DI dan NII di Garut yang sudah berikrar setia kembali kepada NKRI," ujar Ketua MUI Garut, KH Sirodjul Munir.

Pembinaan tersebut menurutnya penting dilakukan secara berkala untuk memperkuat ideologi bangsa agar mereka tidak terpengaruh untuk kembali bergabung dengan organisasi terlarang.

Para eks pengikut NII dan DI itu juga diberdayakan dengan kegiatan ekonomi agar mampu mandiri secara finansial.

"Saat ini ada lebih dari 300 orang di Garut yang berikrar secara terbuka  kembali setia kepada NKRI dan seribu orang yang berikrar secara sembunyi-sembunyi," ucapnya.

Seribuan orang yang berikrar kembali setia pada NKRI secara sembunyi menurutnya beralasan takut mendapat teror dari para pemimpin NII.

KH Munir menjelaskan saat ini, di Garut khususnya di wilayah selatan masih banyak pengikut NII dan DI, jumlahnya 20 ribu pengikut.

"Di Garut Selatan itu ada 20 ribu anggota, itu tercatat di lembaga mereka," ucapnya.

Faktor tingginya jumlah pengikut NII dan DI di Garut lantaran mereka diiming-imingi dua pencapaian yakni masuk surga dan mendapat jabatan tertinggi dalam hidupnya.

Selain itu, ucap KH Munir, faktor pemahaman agama yang kurang menjadi faktor paling tinggi yang bisa mempengaruhi mereka.

"Ada juga dari kalangan menengah dari mereka jika berhasil mendirikan negara Islam di Indonesia maka akan mendapat tahta tertinggi, jabatan tertinggi," ucapnya.

Di Garut sendiri, MUI bersama pemerintah dan penegak hukum terus berupaya menghalau gerakan organisasi terlarang dengan disiapkan beberapa aturan terkait paham radikalisme.

Sementara itu, AS (47) eks pengikut NII di Garut mengaku cukup lega bisa kembali ke pangkuan NKRI, setelah sebelumnya berhasil dicuci otak oleh paham radikalisme.

"Alhamdulillah bisa kembali lagi (ke NKRI), saya sudah bertaubat, ke depannya ingin melanjutkan lagi hidup dan jadi orang yang mengajak kepada kebaikan," ujarnya.(*)

 

Sumber: Tribun Priangan
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved