Ridwan Kamil Sebut Adaptasi Jadi Hal Utama dalam Green Energy dan Digitalisasi

Ridwan Kamil Sebut Adaptasi Jadi Hal Utama dalam Green Energy dan Digitalisasi

tribunpriangan.com/syarif abdusalam
Gubernur Jabar Ridwan Kamil 

Laporan Kontributor TribunPriangan.com, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNPRIANGAN.COM, BANDUNG - Adaptasi menjadi salah satu hal terpenting dan terutama dalam menghadapi berbagai disrupsi yang menghadang dunia akhir-akhir ini. Adaptasi juga harus dilakukan media massa saat menghadapi berbagai krisis, perubahan zaman, dan perubahan kebiasaan maayarakat.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat menghadiri launching TribunPriangan.com dan talkshow nasional "Green Energy dan Digitalisasi Ekonomi Kreatif Jadikan Priangan Juara" di Trans Convention Center Kota Bandung, Kamis (20/10/2022).

"Adaptasi-adaptasi Iinilah yang harus dipahami oleh media," kata Ridwan Kamil.

Kang Emil, begitu dia disapa, mengatakan, saat pandemi Covid-19, ada ekonomi yang tidak terpengaruh, yaitu ekonomi di bidang pangan, teknologi digital, sampai bidang kesehatan.

Bukan hanya itu, menurutnya bidang-bidang lainnya juga mesti beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Baca juga: Tiga Opsi Jalan Politik Ridwan Kamil untuk Pemilu 2024

Baca juga: Ridwan Kamil Tepis Isu Ibukota Jabar Pindah ke Tegalluar, Begini Penjelasannya

"Kami mereformasi digital ini secara serius. Kami memberantas korupsi dan jual beli jabatan pakai aplikasi, kami bisa menemukan PNS malas pakai aplikasi, urusan Covid-19 kami gabung dalam satu aplikasi," katanya.

Disrupsi terpenting lainnya yang tengah dihadapi dan membutuhkan adaptasi selanjutnya, lanjut Kang Emil, yaitu pemanasan global atau global warming.

Menurutnya, hal tersebut disebabkan masyarakat yang masih banyak memiliki gaya hidup boros karbon sehingga tidak ramah lingkungan.

"Kenapa pemanasan global itu sekarang sudah hadir di tanah Jawa Barat, di Indonesia, karena gaya hidup Bapak Ibu semua, hari ini rata-rata boros karbon. Mobilnya bensin semua, karena bensinnya dari minyak bumi, yang mengeruk dan menghisap, melontarkan CO2 yang panas dikalikan kebutuhan kita," katanya.

Indonesia membutuhkan minyak bumi 1,5 juta barel per hari. Sedangkan produksi Indonesia hanya 600 ribu barel per hari, sisanya impor yang dikendalikan oleh luar negeri, dikendalikan oleh krisis Rusia-Ukraina, hingga harga mahal dan subsidi menjadi tinggi.

"Terus rakyat marah, terus muter gitu. Pertanyaannya, maukah kita begitu tiap tahun, kan, nggak mau. Maka saran saya adalah mari kita mulai mengkampanyekan ini melalui media ini, hidup yang hemat karbon," katanya.

Hidup hemat karbon ini bisa dilakukan dengan cara menggunakan kendaraan listrik dan mulai berjalan kaki atau bersepeda untuk menjangkau tujuan yang cukup dekat.

Baca juga: Ini Harapan Ridwan Kamil di Peluncuran TribunPriangan.com

Selain itu, hidup hemat karbon juga bisa diwujudkan dengan menambah pembangkit listrik energi terbarukan seperti air, surya, angin, sampai panas bumi.

Kang Emil mengatakan, dia sudah memakai kendaraan listrik dua tahun sebelum Presiden Joko Widodo meminta semua kepala daerah dan unsur pemerintahan memakai kendaraan listrik.

"Saya menghemat miliaran dari uang bensin. 300 km itu butuh bensin sekitar Rp 300.000 harga dulu. Tapi kalau nyolok listrik dan kalau dirupiahkan hanya Rp 50.000. Jadi hanya membayar seperenam dari biaya tadi," katanya.

Ia pun mengajak TribunPriangan.com yang baru lahir ini menjadi penggerak energi terbarukan. Juga menjadi media yang membersamai Indonesia menuju Indonesia Emas pada 2045.

"Tribun Priangan ini hadir saat ekonomi Indonesia sedang ranking 16 dari 200 negara. 10 tahun lagi kalau bisnisnya lancar, Insya Allah amin, Indonesia ekonominya ranking 10. Kalau kita enggak bertengkar di 2024 insya Allah kita akan menjadi negara adidaya di 2045," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved